High End Audio

Membangun System Audio Idaman

Sebagai seorang audiophile/videophile tentu merupakan suatu dambaan apabila komponen yang mereka beli dapat dirasakan keindahannya dan kemerduan dari suara yang dihasilkannya. Tetapi dalam kenyataannya, sulit sekali kita dapat terpuaskan dari suara yang dihasilkannya. Dan tantangan kedua adalah bagaimana memaksimalkan kepuasaan kita dengan budget yang ada.

 

Planning

Planning merupakan hal yang terpenting sebelum melakukan suatu kegiatan baik dalam komunitas kerja maupun dengan kegiatan sehari-hari . Demikian pula pada saat ingin membeli barang elektronik, penting sekali apabila kita sudah dapat menentukan barang apa yang kita beli, berapa harganya dan kenapa kita beli komponen tersebut sebelum keputusan membeli suatu barang dilakukan.
Langkah pertama adalah menentukan berapa besar anggaran yang dialokasikan untuk membangun system audio. Tentukan batasan maksimal dan target komponen yang akan dibeli. Kita perlu berhati – hati dengan ambisi kita dalam berburu peralatan high – end. Banyak sekali kasus dimana seorang audiophile telah berbelanja sampai angka yang luar biasa namun suara yang dihasilkan dari system audionya tidaklah sebanding dengan apa yang telah dikeluarkannya. Bukan karena komponenya jelek tetapi karena komponen-komponen tersebut tidak bersinergi menghasilkan suara yang baik tetapi justru sebaliknya. Misalnya loudspeaker yang dipilih adalah yang berkarakter “bright dan super detail” dan amplifier yang dipilh juga yang berkarakter “bright” . Alhasil, system audionya hanya dapat didengar pada setengah jam pertama sedangkan selanjutnya kita sudah capek dan jenuh dibuatnya.

Pengenalan Komponen

Sebagai awal membangun sistem audio ada baiknya mengetahui komposisi umum untuk sebuah system audio high end :

Sumber Suara: CD Player, Turntable atau perangkat sumber suara lain

Penguatan suara: Integrated Amp atau Pre-Power Amp
Speaker: Monitor, Floorstand
Perkabelan: Interkonek, Speaker
Aksesoris: Power Conditioner, Equipment Platform
Ruang Dengar: Akustik

Setelah mengetahui kompsisi komponen dasar suatu system High End, selanjutnya adalah menentukan berapa budget yang akan dialokasikan ke masing-masing komponen tersebut. Yang paling umum berlaku adalah sebagai berikut :

Sumber Suara: 20%
Penguat Suara: 30%
Loudspeakers 40%
Cable & Accessories 10%
Total = 100%
Budget ruang dengar idealnya sekitar 30% – 75% dari total harga diatas. Tetapi hal ini tidak mutlak.

Loudspeakers

Dari table diatas terlihat bahwa loudspeaker yang paling banyak menyerap dana dari suatu sistem High End. Mengapa? Karena loudspeakers memang merupakan hal yang plaing vital dari reproduksi suara. Loudspeakers merupakan penguat suara paling akhir dan yang paling menentukan dari warna suara yang dihasilkan. Setiap pergantian speaker dapat dengan mudah dirasakan walupun oleh seorang pendengar biasa. Untuk membedakannya tidak diperlukan seorang audiophile yang bertelinga emas. Treble yang lebih terbuka, mid yang manis ataupun gebukan bas yang dalam dan tight dapat dengan mudah didengar perbedaannya dan sangat terpengaruh dari kualitas loudspeaker yang terpasang. Oleh karena itu komponen ini layak menerima sumbangan dana yang anda alokasikan untuk membangun suatu system reproduksi suara.
Hal paling mudah untuk menentukan suatu loudspeaker yang baik adalah resonansi box loudspeaker tersebut. Biasanya box yang baik adalah yang tidak menimbulkan resonansi bunyi sama sekali atau menekan sekecil mungkin resonansi bunyi. Karena resonansi menimbulkan bunyi yang tidak dikehendaki dalam reproduksi suara dan meyebabkan kolorasi suara. Untuk mengetahui kualitas box speaker adalah cukup dengan mengetuk secara halus box nya. Jika menimbulkan suara yang kosong hampir dapat dipastikan resonansi suara yang timbul besar dan apabila terkesan mati atau berisi maka box tersebut mempunyai efek resonansi yang kecil.
Manufaktur-manufaktur terkemuka banyak menginvestasikan dananya untuk riset dan perkembangan teknologi box speaker, seperti Wilson Audio Specialties dengan teknologi “M Material” yang sangat rumit pembuatannya, Celestion yang mengembangkan bahan Aerolam, bahan untuk pesawat ruang angkasa pada seri SL600/700, atau Rockport Technologies yang menggunakan campuran granit dan plastic pada seri Antares. Namun, bahan yang paling banyak dipakai untuk membuat loudspeaker yang baik adalah MDF (Medium Density Fiberboard) karena MDF ini mempunyai sifat yang meredam suara dan mudah dibentuk.
Driver-driver yang terpasang juga memegang peranan yang penting. Driver bisa dibuat dari bahan logam, plastic, kertas bahkan keramik yang harganya sangat mahal. Karakter yang dibentuk dari berbagai jenis driver ini pun berbeda-beda.
Lebih jauh, Crossover pada speaker turut memberi peran yang tidak kalah penting. Penentuan cut off frekwensi, integrasi antar driver dan lain-lain diatur dalam modul kecil yang terletak di belakang atau bawah kotak speaker ini. Terkadang ada manufaktur yang merancang crossover sedemikian rumit untuk memperoleh hasil suara yang bagus, namun dilain sisi ada pula manufaktur yang membuat speaker dengan konsep crossover less, dengan alas an akan memperpendek signal suara .

Amplifier

Komponen ini terletak di tengah-tengah antara sumber suara dan loudspeaker. Ia merubah signal kecil dari sumber suara dan diperbesar agar dapat diterima oleh loudspeaker. Umumnya para audiophile lebih suka ada pemisahan antara Pre Amplifier dengan Power amplifier. Pre amplifier yang biasa kita kenal berfungsi sebagai control amplifier dimana terdapat fungsi untuk mengatur besar kecil volume, balance control, asal sumber suara (input) dan menyediakan multi output untuk koneksi 2 power amplifier atau lebih. Komponen ini sangat berpengaruh dalam memberikan warna suara dalam suatu system high end dan layak mendapat perhatian yang serius.
Sedangkan power amplifier merupakan fungsi yang sesungguhnya dari penguat suara yakni dengan membesarkan signal suara kecil dari pre amplifier ke speaker. Mengapa dipisahkan? Para audiophile meyakini bahwa adanya arus listrik yang kuat pada power amplifier dapat mempengaruhi warna suara yang dihasilkan sebuah pre amplifier.
Namun dengan kemajuan teknologi akhir-akhir ini, integrated amplifier pun cukup mendapat hati dari para audiophile. Hal ini karena susunan konstruksi dalam suatu amplifier dapat dipisahkan secara murni oleh integrated amplifier modern sehingga issue signal interference dapat diminimalkan dan bahkan dieliminasi. Manufaktur-manufaktur elektronik terkemuka dari Amerika Serikat seperti Mark Levinson dan Krell yang dulu konsisten dengan konsep pemisahan pre dan power pun kini mulai memproduksi integrated amplifier seperti Mark Levinson ML383 dan Krell KAV 400 XI dsb.

CD/SACD/DVDA Player

Bagaimana kita bisa mendapatkan suara yang baik jika sumber suaranya jelek? Demikianlah pertanyaan yang muncul untuk menggambarkan peranan dari komponen ini. Dewasa ini banyak sekali pilihan format yang dapat kita gunakan sebagai sumber suara. Kita tidak akan membahas perbedaannya kembali satu per satu tetapi perlu diingat apapun pilihan formatnya yang terbaik adalah yang dapat membawa real life music di ruang dengar kita. Sejauh ini Piringan Hitam (LP) yang diset up secara baik, menurut pandangan audiophile, belum tertandingi oleh format digital masa kini.
Cara kerja pemutar CD terdiri dari 2 fungsi utama yaitu membaca data signal dan yang kedua merubah signal digital tersebut ke analog sehingga dikenal istilah CD Transport dan Digital Analog Converter (DAC). CD transport hanya berfungsi membaca data pada disc dan kemudian dikeluarkan dalam format digital sedangkan yang bertugas untuk mengkonversi data dari format digital ke analog adalah komponen DAC. Mengapa harus dipisah? Audiophile meyakini bahwa struktur mekanikal pemutar CD ketika membaca CD yang diputar cepat akan meyebabkan getaran yang efeknya mampu mempengaruhi kualitas suara pada saat signal diproses dari digital ke analog di modul DAC. Disamping itu didalam CD Transport papan atas struktur mekaniknya cukup rumit untuk meredam getaran sehingga menyita sebagian besar ruang dari komponen tersebut. Demikian pula dengan DAC yang baik, sering dijumpai Power Supply yang besar untuk mensupply listrik yang stabil ke processor dan komponen elektronik lainnya.

Ruang Dengar
Apabila memungkinkan, usahakanlah untuk mempunyai ruang dengar khusus yang telah ditreatmet akustik. Treatment akustik bukan berarti sebuah ruangan kedap suara tanpa pantulan atau yang biasa disebut dead room. Dead room justru cenderung berefek negative terhadap system audio. Treble menjadi dull, tidak open dan tidak detail. Vocal menjadi tidak rich dan terkesan keluar dari tenggorokan.
Yang terbaik adalah apabila ruangan tersebut menyisakan sedikit ruang yang hidup sehingga reverberant suara masih bermain di space tersebut. Umumnya para audiophile menggunakan beberapa perangkat room treatment seperti Echo Buster atau RPG Diffusor dan sebagainya untuk setting sebuah ruangan. Beberapa perangkat tersebut bahkan special dibuat untuk tidak menyerap suara tetapi justru memecah dan memantulkannya kembali sembarang arah. Dipercaya teknologi ini mampu untuk membuat suara lebih hidup dibanding menyerap eneginya yang cenderung akan membuat treble menjadi dull.
Apabila kita tidak dapat mengusahakan ruangan dengar khusus dan terpaksa harus ditempatkan di ruang tamu atau tempat lain yang terbuka yang tidak memungkinkan dipasang perangkat room treeatment, usahakan di sudut ruangan di belakang speaker ditempatkan peredam seperti busa atau glass wool untuk meredam gema bass yang excessive.
Ukuran ideal untuk sebuah ruang dengar adalah 5 m x 8 m. x 3 m (pxlxt) karena dengan ruangan sebesar ini kita dapat menempatkan speaker floorstanding full range yang dapat menghasilkan medan suara yang besar dan tampilan vocal penyanyi yang utuh dari kepala samapai ke kaki. Layaknya si penyanyi atau pemain instrument tersebut hadir di ruangan tersebut.

Uji Dengar
Setelah itu yang paling vital adalah uji dengar. Referensi buku atau majalah bisa membantu untuk memperkecil kemungkinan tetapi belilah barang yang sesuai dengan selera kita. Karakter suara dan jenis musik yang kita sukai dan pilihlah komponen yang mendekati apa yang kita inginkan.
Bawalah cd lagu kesukaan yang telah kita kenal dan sering dengar sebagai bahan referensi. Kemudian lakukankanlah comparative test A/B yaitu dengan mencoba amplifier yang kita inginkan. Kenali karakter suaranya kemudian gantilah dengan amplifier pembanding lain lalu catat perbedaannya. Kemudian kembali lagi ke amplifier yang kita inginkan. Dengan melakukan hal ini memungkinkan kita untuk lebih jelas mengetahui kelemahan dan kelebihan dari salah satu amplifier tersebut. Bila mencoba pre amp dengan fasiltas by pass, akan lebih memudahkan lagi. Kita dengar pre amp tersebut melalui jalur signal suaranya kemudian kita by pass jalur signalnya sehingga yang berfungsi murni hanya volume control saja. Dari sini kelebihan dan kekurangannya akan terdeteksi dengan jelas.

Tahap Pembelian
Pilihlah toko yang menyediakan ruang khusus untuk uji dengar atau bahkan toko yang menawarkan untuk langsung uji dengar di rumah kita. Dengan demikian kita tidak akan kecewa karena suara yang dihasilkan di toko berbeda dengan pada saat terpasang di rumah.
Harga memang merupakan suatu factor tetapi apabila kita sudah mendapat servis yang demikian baik dari suatu toko dengan menawarkan uji dengar di rumah, maka seyogyanya kita membeli barang dari toko tersebut. Tentunya sang pemilik toko yang akan kecewa apabila ia telah memberikan servis terbaiknya tetapi mengetahui bahwa kita membeli barang tersebut dari toko lain yang menawarkan lebih murah.

Happy Hunting !

Erwin Atmaja
gudangpeluru@yahoo.com
www.vokuz.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s