Feeds:
Tulisan
Komentar
Tips mereview review produk
Kita sebagai penggemar musik dan film sangat menginginkan perangkat yang sempurna untuk merepro film dan musik yang kita sukai. Salah satu perangkat yang sering kita pakai sebagai pedoman dalam memilih perangkat adalah review produk yang dilakukan majalah – majalah audio video.
Di Indonesia saat saya membuat tulisan ini ada beberapa majalah audio video yang rajin menuliskan review – review produk terbaru seperti majalah Audio Video, Audio Interior, dan What’s HiFi versi Indonesia. Sedangkan di luar Amerika ada beberapa majalah review subjektif seperti yang sangat terkenal adalah Absolute Sound, Stereophile sedangkan di Inggris seperti What’ HiFi, Hi Fi Choice, Hi Fi Plus. Belum lagi ditambah majalah – majalah review subjektif negara lain seperti Jepang, Hong Kong dan lain-lain. Adapula beberapa situs audio online independent yang rajin menuliskan review terhadap produk – produk.
Banyak penulis majalah memiliki kemampuan yang trampil dalam mendengar, secara teknis keahlian serta memiliki kemauan yang kuat membuat mereka bersedia untuk melaporkan keadaan yang sesungguhnya tentang produk audio. Ada sebuah pedoman dalam kewartawanan yang melambangkan etika dari banyak penulis produk high-end. “Tak punya perasaan takut atau tidak memihak”. Majalah seharusnya tidak perlu takut kepada Pabrik ketika menerbitkan tulisan negatif maupun mengharapkan menerbitkan sesuatu yang baik. Sebagai gantinya produk individu menciptakan mutu produk, serta suara yang serasi. Karena penulis high-end mendengar banyak produk dalam kondisi yang baik, mereka berada pada posisi ideal untuk menilai kelemahan serta jasa yang relatif dan melaporkan pendapat mereka. Penulis yang terbaik mempunyai kombinasi yang baik pada telinga, kejujuran, dan kemampuan teknis.
Review majalah audio terbagi atas dua kutub. Kutub pertama adalah kutub produsen dan kutub kedua adalah kutub pembaca. Majalah kutub produsen pemegang kendali adalah iklan, sumber dana mereka adalah dari pemasang iklan mereka. Sebaliknya, pada majalah kutub pembaca pemegang kendali adalah para pembaca, tujuan utama mereka adalah melayani para pembaca, bukan pemasang iklan mereka. Sebagai konsekuensi, majalah high end sering kali menerbitkan review yang negatif, sedangkan majalah Mass-market pada umumnya tidak. Lebih dari itu, majalah high-end jauh lebih membeda-bedakan sekitar pembuatan komponen yang baik, yang dapat direkomendasikan kepada pembaca. Majalah Mass-market menyediakan kepercayaan kepada orang-orang dijalan (dalam pandangan saya) tidak memperhatikan aspek reproduksi musik.
Review produk high-end tidak hanya harus lebih jujur, tetapi harus dapat membeda-bedakan dalam menentukan apa yang sesungguhnya produk yang pantas. Jika anda membaca majalah Hi-Fi yang tidak pernah memberi kritik pada produk, berhati-hatilah. Tidak semua komponen audio berharga; oleh karena itu, tidak semua review majalah harus menyimpulkan rekomendasi.
Berikut adalah beberapa pedoman dalam menilai sebuah review pada majalah audio:
1. KENALI PENULIS REVIEW
Belajarlah untuk mengenal penulis dengan menghubungkan review yang sedang anda baca dengan penulisnya. Saat membaca review lihatlah nama yang menulis review itu.
Pertama – tama lihat jenis lagu yang sering dipakai untuk mereview produk tersebut, apakah dia penggemar lagu klasik, lagu country, lagu jazz dan sebagainya. Apakah selera penulis sesuai dengan selera anda.
Kedua lihat peralatan pendukung yang dipakai apakah peralatan tersebut mirip dengan perangkat yang anda gunakan.
Ketiga lihat kecenderungan penulis, setiap penulis memiliki kecenderungan tersendiri. Ada yang menyukai suara yang berdinamika, ada yang menyukai kegesitan dan sebagainya.
2. PENULIS MEMILIKI TINGKAT KEAHLIAN YANG BERBEDA
Jangan beranggapan bahwa penulis review memiliki keahlian yang sama. Penulis review sama dengan profesi yang memerlukan keahlian seperti tukang kayu, dokter dan lain-lain. Penulis review menyandang predikat kompetensi yang berbeda. Ada penulis yang telah malang melintang dalam beberapa dekade dan ada pula pendatang baru yang tidak memiliki komitment pengalaman serta pengetahuan untuk profesi itu. Reputasi penulis dipertimbangkan dari catatan serta pengalamannya.
3. HAKIMI REVIEW TERSEBUT SESUAI DENGAN PENILAIAN ANDA
Terakhir, dengarkan produk itu sendiri. Jika dua komponen dibandingkan dalam review, dengar dan bandingkan produk tersebut dengan persepsi penulisnya. Sekalipun anda bukan mencari produk yang ada pada review, mendengarkan komponen itu akan mempertajam ketrampilan anda, serta dapat mempertimbangkan perspektif nilai penulis review.
Ada beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan pada saat membaca review sebagai berikut:
1. TERLALU BERPATOKAN MATI TERHADAP REVIEW
Kesalahan umum yang sering terjadi dalam memilih perangkat audio video adalah berpatokan hanya pada review bukan dengan menguji perangkat tersebut. Review seharus dipakai sebagai titik pandangan bukan sebuah nilai mutlak terhadap kualitas mutu produk tersebut. Membeli produk yang hanya didasarkan pada review akan dipenuhi dengan bahaya. Jangan pernah lupa bahwa review tidak lebih dari pendapat seseorang atau bisa juga sebagai informasi atau pendapat dari orang yang lebih berpengalaman dari kita. Lebih dari itu, jika pendapat penulis berbeda dengan selera anda maka akhirnya anda akan membeli komponen yang tidak anda sukai. Kita semua memiliki prioritas yang berbeda dalam menilai kualitas suara; apa yang penulis nilai adalah suara yang terbaik, sebagai contoh mungkin penilaian kecepatan suara akan dinilai rendah. Prioritas anda yang utama ketika memilih komponen musik playback. Percaya pada pendengaranmu.
2. KURANG TELITI DALAM MENILAI REVIEW
Pertama pembaca dengan penglihatan yang tajam dapat menemukan produk mana yang khusus bagi penulis. Kebanyakan penulis mendaftarkan sistem referensi mereka dengan produk baru. Ketika produk tertentu muncul dalam sistem referensi review sesudah review, anda dapat yakin bahwa penulis berpikir bahwa produk tersebut adalah produk yang baik. Tanda yang lain untuk membuktikan bahwa produk tersebut baik, jika penulis membeli produk tersebut untuk dirinya sendiri.
Kedua kadang – kadang ada produk diberi kan predikat bintang lima atau rekomendasi tetapi di oleh penulis review yang lain diberi penilaian kurang baik.
3. MENJADI KESAL JIKA PRODUK YANG DIBELI MENDAPAT REVIEW YANG KURANG BAIK
Kata terakhir tentang review produk: jangan berhenti untuk menikmati musik jika komponen yang telah anda beli mendapat review yang buruk. Anda telah menikmati musik dari produk tersebut sebelum review itu muncul; mengapa pendapat orang lain yang harus menghilangkan kenikmatan musik anda? Baik atau Buruk, review majalah membawa banyak pengaruh dalam pikiran pembaca dan dalam pasaran.
4. MEMBELI BARANG BERDASARKAN REVIEW BEBERAPA PENULIS BERBEDA TANPA MEMPERHATIKAN “SISTEM MATCHING”
Penulis review A memberikan predikat bintang lima terhadap speaker XYZ. Kemudian penulis review B memberikan predikat rekomendasi terhadap ampli ABC. Tetapi begitu dipasang di rumah yang terjadi adalah hasil yang sangat jelek.
KESIMPULAN
Manfaat review produk dengan bijaksana:
- Mengetahui prioritas musik penulis masing-masing. Menemukan perbedaan penulis dalam menilai musik serta kecepatan suara.

- Memadukan ide/pendapat anda dengan ide/pendapat penulis tentang suatu produk. Ini tidak hanya memberi anda perasaan sebagai seorang penulis, juga akan membuat anda menjadi pendengar yang terbaik.
- Jangan memberi cap yang sama kepada semua penulis. Pertimbangkan juga reputasi serta pengalaman penulis dilapangan. Berapa banyak kesamaan produk yang telah dibuat oleh penulis? Sebagai contoh, jika penulis yang telah mendengar hampir tiap-tiap semua model digital processor, pendapat mereka akan jauh lebih berharga dibandingkan dengan penulis yang hanya mendengar sedikit model.
- Jangan membeli atau menolak produk semata-mata karena didasarkan oleh review. Gunakan rekomendasi produk sebagai titik awal untuk penilaian produk bagi anda sendiri. Dengarkan produk tersebut sendiri, lalu putuskan apakah produk tersebut cocok untuk anda. Biarkan telinga anda yang memutuskan.

Demikian tulisan ini saya buat dengan harapan dapat memberikan masukan yang baik bagi anda.
Salam,
Herwin Gunawan

www.vokuz.com


Dari tabel dapat di lihat bahwa tingkat kemurnian tertinggi tembaga adalah dengan teknologi peleburan OFC 99,99999% dan PCOCC 99,99999%.

Sedang ukuran butiran tembaga terbesar adalah PCOCC 99,999% dan PCOCC 99,99999.

Dari tabel ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bahan tembaga yang di gunakan pada kabel Harmonic Technology adalah bahan tembaga dengan teknologi tertinggi saat ini.

Teknologi Kabel Single Kristal

Pengembangan teknologi di bidang audio video ternyata tidak terbatas pada perangkat. Kabel pun tak luput dari perhatian. Saat ini teknologi tercanggih dalam perkabelan adalah teknologi yang disebut teknologi single kristal.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam suatu sistem audio video, perkabelan cenderung kurang diperhatikan. Padahal kabel sebagai penghantar sinyal dapat mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan dari suatu sistem. Kabel yang baik adalah kabel yang memiliki distorsi paling rendah –bahkan kalau bisa tanpa distorsi- terhadap sinyal yang dihantarkannya. Dalam suatu sistem high-end, syarat ini mutlak dibutuhkan dalam pemilihan kabel yang akan digunakan.

Terkait dengan hal ini ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan dari sbuah kabel. Resistansi, kapasitansi, dan induktansinya merupakan beberapa faktor penting yang bisa mempengaruhi performa sistem secara keseluruhan. Namun diluar itu, ada beberapa aspek lain yang seringkali terlupakan walau sebenarnya juga mempengaruhi kualitas sebuah kabel. Salah satunya adalah tipe konduktor dan kemurniannya (purity).

Perkembangan teknologi kabel juga merambah aspek satu ini. Tercatat beberapa teknologi telah diciptakan untuk menciptakan sebuah kabel performa tinggi. Sampai pada akhirnya, di tahun 1986 Profesor Ohno dari Chiba Institute of technology menemukan teknologi Continous Casting Copper. Teknologi Continous Casting Copper ini mampu menghasilkan bahan konduktur Single Crystal (Kristal Tunggal) yang mampu mentransfer sinyal audio video tanpa tandingan saat ini. Untuk menjelaskan bagaimana hebatnya teknologi peleburan tembaga kontinu di banding dengan teknologi yang ada mari kita bahas satu per satu.

TPC (Tough Pitch Copper)

Pertama-tama adalah Tough Pitch Copper (TPC). TPC dibuat dengan cara memanaskan tembaga sampai meleleh. Kemudian tembaga cair dimasukan ke dalam wadah pencetakan. Wadah pencetakan berfungsi sebagai pendingin. Tembaga yang keluar dari wadah ditarik berulang kali sampai didapatkan ukuran yang diinginkan. Proses ini dikerjakan dalam suhu normal.

Karena semua proses di kerjakan di ruangan biasa, maka dalam proses pembuatannya tembaga terkontaminasi dengan udara sekitar seperti oksigen dan hydrogen. Umumnya tembaga jenis ini mengandung 300 – 500 PPM (Parts Per Millions) oksigen. Kontaminasi Oksigen dan Hidrogen tersebut menyebabkan adanya distorsi sinyal yang sangat mengganggu.

TPC adalah konduktor tembaga yang umum digunakan untuk kabel elektronik. Kita bisa menjumpainya pada kabel-kabel seperti kabel listrik untuk lampu, peralatan rumah tangga dan kabel audio tanpa merek.

OFC (Oxygen Free Copper)

Akibat tuntutan dari audiophile yang semakin kritis maka timbullah OFC. Dikembangkan di Jepang pada tahun 1975, proses OFC sebenarnya mirip dengan proses TPC. Dalam proses ini, tembaga cair di masukan dalam wadah cetak dan kemudian ditarik. Yang membuat OFC lebih baik adalah OFC diproses dalam ruangan hampa udara. Sehingga proses tersebut tidak dipengaruhi oleh udara-udara yang mengandung oksigen maupun hydrogen. Hasilnya, tembaga yang dihasilkan mengandung 10 PPM oksigen. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan TPC.

Selain itu, daya hantar OFC meningkat antara 0,5 – 2% lebih baik dari TPC. Seiring dengan perkembangan teknologi pabrik, pembuat kabel OFC kini dapat menghasilkan bahan konduktor yang tingkat kontaminasi sangat rendah. Dan melalui teknologi annealing (pelunakan) dihasilkan OFC dengan butiran kristal yang halus dan rapat. Konduktor jenis ini punya kemampuan daya hantar yang baik, dan karenanya banyak digunakan pada kabel-kabel yang bermerek.

Gambar 1. Teknologi peleburanb berkesinambungan ciptaan Prof. Ohno dan teknologi peleburan konvensional.

LC-OFC (Linear Crystal-Oxygen Free Copper)

Pada kisaran tahun 1975 juga, Hitachi mengembangkan metode sendiri untuk mengurangi butiran kristal. Proses LC-OFC ini telah dipatenkan oleh Hitachi dan menjadi produk eksklusif mereka. Tipikal kristal yang dihasilkan konduktor LC-OFC dalam setiap 1 mm (diameter) adalah sepanjang 130mm. Cukup signifikan dibanding konduktor TPC dan OFC yang umumnya hanya sepanjang 4mm. Oleh sebab itu kabel LC-OFC dianggap lebih baik dari pada TPC atau OFC.

Gambar 2. Foto butiran antara oxygen free copper dan single kristal copper

PCOCC (Pure Copper by Ohno Continuous Casting Process)

Tetapi agaknya audiophile mania masih belum puas, sehingga akhirnya di temukan teknologi PCOCC. PCOCC adalah proses “State of The Art” dari teknologi peleburan konduktor. PCOCC dihasilkan melalui proses Continuous Casting (peleburan berkesinambungan) yang telah dikembangkan oleh Prof. Ohno dari Chiba Institute of Technology Japan.

Proses PCOCC dilakukan diruang hampa seperti proses OFC tetapi bedanya adalah dalam proses peleburan dan pembentukan tembaga. Tembaga Murni cair di masukan dalam wadah cetak yang bersuhu tinggi. Tembaga tersebut kemudian ditarik melalui proses pendinginan.

Proses ini menghasilkan single-kristal (butiran tunggal) yang homogen dan panjang yang tidak terputus – putus ataupun retak. Tipikal kristal yang dihasilkan proses PCOCC untuk 0.3mm (diameter) adalah sepanjang 125m! Lagi pula kadar oksigen dan hydrogennya sangat rendah, atau hampir mendekati nol.

Karena proses pembuatan yang spektakuler ini, kabel yang dihasilkan memiliki beberapa kelebihan yang sangat signifikan dibanding proses lainnya. Kelebihan tersebut diantaranya adalah penurunan rasio tegangan pada tembaga, sehingga PCOCC memiliki kelenturan yang lebih baik, berat jenis yang lebih besar dan faktor “Q” yang lebih tinggi.

PCOCC juga memiliki faktor isolasi yang lebih tinggi terhadap pengaruh elektro magnetik. PCOCC single-crystal (butiran tunggal) tidak memiliki sudut-sudut butiran sehingga membuat transmisi sinyal audio yang lebih baik. PCOCC tidak menghalangi atau merubah sinyal audio secanggih apapun dan memiliki karakter distorsi terendah di dunia saat ini.

Sejak teknologi ini diperkenalkan pada 1986 oleh Profesor Ohno, riset dan pengembangan terus dilakukan untuk menyempurnakannya. Beberapa merk kabel tertentu juga memanfaatkan proses ini. Salah satu diantaranya adalah Harmonic Technology.

Harmonic Technology melanjutkan riset dan pengembangan yang terus menerus untuk membuat PCOCC yang lebih baik Saat ini Harmonic Technology dapat memproduksi tembaga dengan kemurnian 99,99999% atau “7N Copper” karena kabel ini memiliki karakteristik “7Nine” untuk kemurnian tembaga. Tingkat kemurnian seperti itu otomatis membuatnya menjadi penghantar sinyal terbaik bagi suatu sistem audio video. Pada akhirnya performa sistem secara keseluruhan pun dapat diperoleh secara maksimal.

Salam,

Herwin Gunawan

www.vokuz.com

Mengapa kabel video sering bermasalah jika panjangnya lebih dari 3 meter?
Seperti pepatah abadi yang berbunyi: Keindahannya tidak dapat dilukiskan dengan kata – kata atau tidak ada kata – kata yang dapat melukiskan betapa indahnya pemandangan ini. Terinspirasi oleh pepatah tersebut ilmuwan, peneliti, perusahaan besar berlomba – lomba untuk menciptakan produk visual yang dapat mengabadikan dan merepro seindah aslinya.
Untuk mengimbangi teknologi tersebut kabel video adalah merupakan komponen penting yang mempengaruhi hasil akhir reproduksi tayangan gambar.
Saat ini di pasaran terdapat beberapa format kabel video seperti: coaxial-komposit, RCA-komposit, s-video, 3RCA – komponen RGB, 5 RCA komponen, DV-i digital, S-cart.
Kabel video berbeda dengan kabel audio analog dimana kabel audio berfungsi mentransfer sinyal berfrekuensi rendah 20 – 20 kHz. Sedangkan kabel video berfungsi untuk mentransfer sinyal frekuensi tinggi 8MHz – 10 MHz untuk format NTSC dan 35 MHz untuk format HDTV.
Penurunan kualitas sinyal akibat efek “Transmission Line”.
Transmission Line adalah efek yang timbul karena panjang kabel melebihi 1/10 panjang gelombang sinyal. Dalam mentransfer sinyal video yang merupakan arus sinusoida maka rumus yang di pakai adalah:
wavelength (in meters) = v / f
V = kecepatan sinyal (300,000,000 meter/detik)
f = frekuensi sinyal
Perbandingan: Frekunsi sinyal audio adalah 20 hz – 20,000 hz maka panjang gelombang audio adalah 15,000,000 meter sampai dengan 15,000 meter.
Sedang frekuensi sinyal video adalah 10 MHz maka panjang gelombang sinyal video adalah 30 meter.
Kita tentu ingin sinyal yang ditransfer melalui kabel sampai ke TV atau proyektor kita sesempurna mungkin. Dari rumus diatas kita lihat bahwa untuk sinyal video 10MHz maka panjang gelombang sinyal adalah 30 meter sedang efek “Transmission Line” terjadi pada kabel yang melebihi 1/10 panjang gelombang atau kabel yang panjang lebih dari 3 meter. Jika kita menghubungkan TV kita dengan kabel audio biasa atau kabel bukan khusus untuk kabel video maka terjadi sebagian sinyal akan terrefleksi (terpantul) dapat dijelaskan dengan rumus dibawah ini:
Vi = Voltase Insidental sumber sinyal
Zo = Karakteristik impedansi sumber sinyal
Vr = Voltase Insidental tujuan sinyal
Zr = Karakteristik impedansi tujuan sinyal
Dari rumus diatas disimpulkanlah bahwa karakteristik impedansi yang cocok untuk mentransmit sinyal video adalah 75 ohm sedang kabel audio umumnya memiliki karakteristik impendansi 35-50 ohm.
Rumus impedansi karaketerisktik sebagai berikut: (Reference Data for Radio Engineers – Howard W. Sams)

D = diameter isolasi(dielektrik),
d = diameter konduktor,
E = dielektrik konstant (E=1 untuk udara)
Untuk mendapatkan kabel video komposit/komponen yang benar – benar 75 ohm diperlukan memperhatikan faktor sebagai berikut: konstruksi kabel, bahan konduktor, bahan dielektrik, konektor RCA 75 ohm, penyolderan yang tepat dari kabel ke konektor RCA 75 ohm dan perlindungan kabel.
Fakta dilapangan
Fakta yang dilapangan sering kali kita kurang memperhatikan faktor – faktor penentu dalam membeli kabel komponen.
Faktor penentu kualitas kabel video adalah: spesifikasi kabel 75 ohm, konstruksi kabel, material konduktor, material dielektrik (isolasi), RCA konektor 75 ohm, cara merakit kabel tersebut, penyolderan dan sebagainya.

Faktor lainnya adalah gangguan gelombang radio, elektromagnet. Jika diperlukan kabel videoyang panjang/ ada perlu membuat sendiri berikut adalah tips pemasangan:

  • Rencanakan jalur kabel sependek mungkin
  • Hindari pemakaian paku untuk memantek kabel di dinding. Paku dapat memberikan gangguan elektromagnet pada kabel.
  • Jauhkan kabel dari perangkat yang mungkin memancarkan gelombang radio atau electromagnet seperti: kipas angin, motor listrik dll.
  • Gunakan pelindung kabel seperti pipa, selang atau pvc untuk kabel
  • Sebaiknya gunakan konektor RCA – 75 ohm solderless. Seperti buatan Analysis-Plus.
Uji Coba

Untuk menguji teori diatas saya akan melakukan beberapa uji coba sebagai berikut:

Uji coba dilakukan dengan memakai DVD player high end yang mengadopsi teknologi terkini, TV 34” dengan teknologi terkini. Dalam uji coba ini saya memakai film DVD – Toy Story I Original – Chapter 1 – Menit ke 2:44 (pause). Momen tersebut menggambarkan Sherif Woody tergeletak di atas sofa tamu berwarna hijau dengan latar belakang perapian dan ruang lainnya.

Test 1 dengan kabel komposit RCA murahan 1,5 meter ( Rp 10.000).

Kabel RCA ini memiliki diameter kabel yang sangat tipis dan kelihatan rentan. Kabel seperti ini biasanya memakai Tough Pitch Copper sebagai bahan konduktornya. Konektor RCA menyatu dengan kabel.Gambar yang direproduksi oleh kabel ini memberikan hasil sebagai berikut: Tekstur fabric sofa yang berwarna hijau tidak terlihat dengan warna hijau pucat. Topi kulit sherrif Woody juga pucat. Gambar terasa hambar, pucat, kurang dimensi.

Test 2 dengan kabel komposit RCA Straight Wire Harmony untuk audio – 3 meter. (Rp 200.000 sepasang).

Kabel ini memiliki jacket berwarna hijau degan bahan Foam PE. Bahan Konduktor adalah Oxygene Free Copper dengan konstuksi Dual Shield Coax. Konektor RCA – Gold Flange – Split Pin. Kabel ini berimpedansi sekitar 40 ohm. Hasil reproduksi gambar dibanding dengan test 1 adalah: mulai terlihat baying-bayang tekstur fabric sofa dan warna hijau sedikit lebih baik. Memberikan hasil sedikit lebih baik dari test 1.

Test 3 dengan kabel komposit RCA Analysis Plus – Copper Oval in untuk audio 1 meter. (USD 249 sepasang).

Kabel ini memakai bahan Oxygene Free Copper dengan penampang kabel oval. Jacket dieletrik berwarna hitam dan agak kaku. Konektor locking RCA model WBT. Gambar terlihat lebih berdimensi mungkin akibat kemampuan kabel ini menampilkan resolusi yang lebih tajam untuk benda di depan dan resolusi dan kegelapan gambar background yang lebih pekat dan vivid. Ternyata material kabel juga mempengaruhi hasil reproduksi gambar.

Test 4 dengan kabel coaxial 75 ohm Harmonic Technology – Cyber Link Silver RCA 2 meter. (USD 249 per buah )

Cyber Link Silver sebenarnya adalah kabel digital coaxial. Tetapi karena kabel ini memiliki spesifikasi true 75 ohm maka saya ini membandingkan dengan test 4. Cyber Link Silver memakai material single kristal silver sebagai bahan konduktornya. Jacket berwarna putih dengan locking RCA Furutech dan konstruksi balance geometri.

Dengan test ini saya ingin membuktikan apakah kabel 75 ohm berbeda dengan kabel audio 50 ohm. (test 3).

Hasil test memberikan hasil pada tekstur sofa warna hijau yang terlihat lebih jelas begitu pula kain penutup sofa berwarna kuning orange terlihat jadi lebih natural. Warna kulit topi Sherrif Woody terlihat lebih alami tidak glossy seperti pada test 3. Batu bata pada perapian terlihat menjadi merah tua bukan coklat tua seperti pada test 1 dan 2. Dan black level di dalam perapian hitam pekat tidak terang seperti test 3.Bayangan pada sofa akibat sinar yang jatuh ke kaki sherrif Woody juga lebih hidup. Secara keseluruhan detail, dimensi, color tone dan cahaya tampil paling bai k dibanding test 1,2 dan 3.

Test 5 dengan kabel komponen RCA tanpa merek 2 meter. (Rp 100.000,- satu set)

Kabel ini memiliki spesifikasi mirip dengan kabel pada test 1. Hanya kabel ini memiliki 3 coaxial cable. Hasil test memberikan gambar dengan ukuran pixel yang lebih rapat dan gambar yang lebih halus dibanding test 1s/d4. Tetapi color tone, dimensi, dan cahaya masih lebih baik pada test 4.

Test 6 dengan kabel komponen RCA – Harmonic Technology – Silver Component – 2 meter ( USD 150 per set)

Kabel ini memakai konduktor single kristal dengan jacket berwarna abu-abu. Konektor RCA warna merah, biru dan hijau kurang bagus penampilan nya. Impedansi 75 ohm. Hasil test memberikan tampilan gambar yang halus, dimensi depan-belakang yang baik, color tone yang natural dan cahaya yang sejuk dimata.

Kesimpulan

Untuk mendapatkan hasil home theater yang professional sebaiknya manfaatkanlah teknologi yang tersedia pada DVD dan TV/Proyektor anda. Dengan teknologi kualitas gambar bisa ditingkatkan tanpa biaya yang besar. Contoh perbandingan antara komposit dan komponen. Dan membeli kabel yang baik pun belum tentu memberikan hasil yang baik jika kabel tersebut tidak di rakit dan di instal dengan baik.

Salam,
Herwin Gunawan

www.vokuz.com

Bagaimana memilih dan membeli kabel untuk komponen audio anda?

Kabel makin mahal makin bagus?
Semua kabel sama saja, tidak mempengaruhi kualitas audio /video?

Pada suatu kesempatan saya bertemu dengan seorang pengusaha yang kebetulan juga seorang audiophile. Pas obrol – obrol santai saya menanyakan mengenai kabel audio. Menurut dia: Kabel yang dipilih adalah merek yang beken dan makin mahal makin bagus.

Pada kesempatan lain saya bertemu seorang audiophile yang berpendapat bahwa pengaruh kabel tidak banyak mempengaruhi kualitas maupun warna suara pada sebuah sistem audio video.

Tetapi seiring dengan semakin kritisnya audiophile dan canggihnya peralatan yang dijual saat ini. Sebaiknya kita memilih kabel yang tepat dalam hal kualitas maupun harga. Sehingga kabel yang dibeli dapat memaksimalkan hasil reproduksi gambar dan suara dan kelebihan budget dapat di alokasikan untuk membeli perangkat, aksesori dan koleksi CD/DVD.

Oleh sebab itu dalam kesempatan ini saya ulas tips memilih kabel di majalah ini.

Idealnya sebuah kabel berfungsi sebagai penghantar gelombang listrik yang tidak boleh menambah atau mengurangi karakter sinyal yang di hantarkan.
Tapi di dunia yang nyata nilai tambah dalam memilih kabel yang tepat selain berfungsi sebagai penghubung dua komponen elektronik juga harus dapat menciptakan sinergi di antara dua komponen elektronik yang dihubungkan.

Kenapa ?

Karena sampai saat ini manusia belum dapat menciptakan kabel yang ideal, sehingga kita boleh mengabaikan teori dunia ideal bahwa kabel yang baik adalah penghubung ideal yang tidak mengubah sinyal listrik yang dihantarkan.

Jadi pertanyaan untuk kita yang hidup di dunia nyata adalah: “Bagaimana memilih kabel yang paling tepat dan sesuai untuk menghubungkan komponen -komponen yang kita miliki sehingga menghasilkan output cocok di telinga kita secara maksimal?”

Sebagai pedoman untuk menjawabpertanyaan ini, saya kutip semboyan klasik sebagai berikut ““Analisa diri anda, Analisa musuh anda, Harmoniskan kondisi medan perang, iklim dan cuaca. Seribu kali berperang seribu kali menang”, dari “Sun Tzu” seorang panglima perang dimana teorinya sampai saat ini masih dipelajari dan aplikasikan di seluruh dunia.

Lho, apa hubungan nya?

Mari kita jabarkan strategi tersebut menjadi strategi ampuh dalam memilih dan membeli kabel.

1. Analisa selera anda

Mulailah menganalisa apa yang anda inginkan. Apa selera musik anda? Bagaimana warna musik tersebut ingin anda dengar? manis? hangat? lembut? dinamik? natural? Suara vokal yang terkesan lebih maju? Sound Stage yang lebar? Trebel yang open? Berhati – hatilah dengan istilah – istilah diatas. Terkadang istilah tersebut diatas dapat dengan mudah dipelintir misalnya treble yang open di istilahkan menjadi suara yang terang atau sound stage yang maju di istilahkan menjadi suara yang menyerang.
Percayakan selera anda di dalam tangan anda sendiri. Buatlah catatan singkat mulai dari daftar lagu kesayangan anda. Kemudian buat daftar harapan anda misalnya: saya ingin mendengar suara cello yang airy, woody dan tebal, saya ingin mendapat sound stage live show dari sebuah Jazz Club dan seterusnya.
Tabel ini kita sebut tabel selera dan harapan.

2. Analisa karakter konponen dan harmonisasikan dengan kabel anda

Setelah anda sudah merinci satu persatu selera dan harapan anda. Kini saat nya anda mendata karakter komponen yang anda miliki.
Ada beberapa pedoman sederhana untuk hal ini:
· Teliti spesikasi besaran output dan input komponen anda. Buatlah catatan singkat. Tabel ini kita sebut tabel input-output.
· Dengar baik – baik karakter tiap komponen yang anda miliki dengan memakai kabel yang tersedia. Mulailah dari speaker. Buatlah catatan singkat. Tabel ini kita sebut tabel karakter komponen.
· Setelah itu buatlah tabel perubahan. Karakter CD: trebel kurang open > treble open dan halus dan seterusnya. Tabel ini kita sebut tabel perubahan.

3. Analisa ruang dengar anda dan harmonisasikan dengan kabel anda
Bagaimana dengan ruang dengar anda? Luas atau sempit? berakustik baik atau seadanya?
Pemasangan kabel: teratur atau tidak teratur? Apakah kabel yang anda pasang melewati medan listrik lain atau tidak dan yang tak kalah penting adalah posisi sound sistem and posisi duduk anda serta panjang kabel yang dibutuhkan. Buatlah catatan singkat. Tabel ini kita sebut tabel ruang dengar.

Setelah merangkum semua permasalahan dengan ruang dengar, sistem yang ada dan selera anda kini saat nya anda menentukan kabel yang cocok untuk anda.

4. Analisa spesifikasi kabel

Cobalah minta keterangan spesifikasi kabel yang anda taksir. Anda dapat mencari informasi di penjual kabel, di catalog produk , majalah audio atau di internet. Pada dasarnya ada empat hal yang mendasar yang perlu anda amati yaitu : Konduktor, geometri kabel, bahan dielektrik dan konstruksi dielektrik dan konektor.

Bahan Konduktor dan penampangnya

Konduktor sebagai media penghantar listrik memiliki peran yang besar dalam menentukan kualitas kabel.

Bahan konduktor yang sering dipakai untuk kabel audio dapat dijabarkan sebagi berikut: Tough Pitch Copper, Metal Alloy Conductor, Oxygen Free Copper/Silver, Silver plated OFC, Single Crystal Copper/Silver.

Umumnya penampang konduktor yang ada adalah sebagai berikut:
Penampang bundar, penampang persegi, penampang oval dan lainnya.

Geometri kabel:
Geometri pada kabel berperan sebagai solusi mengatasi problem skin efek, bunching efek, medan elektromagnetik dan banyak lagi.
Dalam kabel audio kita mengenal beberapa geometri kabel seperti: geometri bipolar, geometri litz, geometri balance, geometri anyaman tikar, geometri hyper litz, geometri kepang dan lainnya..

Bahan Dielektrik dan konstruksinya
Bahan Insulasi atau sering disebut dielektrik berfungsi sebagai pelindung konduktor, yang mempunyai beberapa fungsi seperti: menghalau sinyal radio frekuensi, mengurangi problem skin efek, isolasi tegangan.
Dielektrik yang sempurna adalah dielektik hampa udara, kemudian adalah dielektrik udara dan kemudian bahan dielekrik lain seperti: PVC, Plastic, FPE, PP, Teflon.
Konstruksi dielektrik juga beragam – ragam mulai dari kabel memakai kombinasi teflon dan gelembung udara, tiap lembar konduktor yang diisolasikan kemudian di pelintir baru kemudian di beri jaket dielektrik dan masih banyak lagi.

Konektor:
Konektor atau sering kita sebut jack, pin, spade dan banana sebagai ujung tombak kabel audio juga memegang peran yang penting. Semakin baik bahan konduktor dan konstruksi yang di gunakan konektor semakin baik pula tingkat efiensi transmisi sinyal audio anda. Pemasangan konektor harus rapat dan keras.

Pemahaman spesifikasi kabel dapat memaksimalkan budget vs performance dari kabel yang anda incar.
Buatlah tabel spesifikasi kabel.

5. Analisa karakter kabel

Setiap kabel memiliki karakter masing – masing. Ada kabel yang berkarakter nada bass yang baik lemah dalam nada tinggi sehingga memberi kesan tumpul atau sebaliknya. Adapula kabel dengan karakter vocal yang manis tetapi memiliki detail yang kurang baik. Ada kabel yang dapat merespon musik dengan cepat tapi memiliki nada rendah yang kurang baik. Sebelum memutuskan untuk membeli kabel sebaiknya anda mencari informasi mengenai karakter kabel pada review – review kabel di majalah, internet dan sebagainya.

6. Analisa akhir

Kita telah memiliki tabel selera dan harapan, tabel input-output, tabel karakter komponen, tabel perubahan, tabel spesifikasi kabel, tabel karakter kabel. Teliti sekali lagi tabel – tabel tersebut. Dari situ kita dapat menarik kesimpulan akhir dengan bias yang mendekati nol.

Saya mengharapkan dengan tulisan ini anda dapat memiliki pedoman dalam memilih dan membeli kabel yang cocok untuk anda. Cocok dari sisi harga, kualitas dan selera anda. Dan yang terpenting adalah anda terhindar dari problem salah memilih kabel seperti yang sering dialami oleh pembeli awam atau pemula.
Seperti kata orang: Nasi telah jadi bubur, menyesal kemudian tidak ada guna.

Silakan dicoba keampuhan strategi Sun Tzu dalam memilih kabel audio yang tepat.

Penulis
Herwin Gunawan

www.vokuz.com

Check List Perencanaan Home Theater

Dalam majalah sering kita lihat ilustrasi home theater hasil design dalam dan luar negeri yang membuat kita tergiur. Saya yakin bahwa beberapa pembaca ingin juga merancang dan mengalami sendiri untuk merancang ruangan home theater /audio di rumah. Tapi untuk merancang sendiri home theater tidak semudah menjiplak gambar yang ada dan memasangkan diruangan, diperlukan pula perhitungan dan ketelitian yang cermat untuk mewujudkan rencana dengan kesempurnaan akustik dan estetika.

Pada tulisan ini saya ingin memperkenalkan Vokuz Cineplan yaitu panduan perhitungan dan perencanaan ruangan home theater. Vokuz Cineplan terdiri dari 9 langkah yaitu:

1. Mengatur posisi

Dalam langkah ini yang perlu di atur adalah posisi duduk yang optimal, letak speaker dan peralatan. Setelah itu pengaturan delay dan besaran volume untuk tiap channel.

Check List point 1:
· Bentuk ruangan persegi panjang, trapezium, sebagian terbuka, sebagian tertutup?
· Apakah speaker, kabel speaker dan power amp yang digunakan satu jenis atau berlainan jenis?
· Apakah jarak center speaker, front speaker dan surround speaker sama atau lain?
· Apakah SPL yang keluar dari tiap speaker di terima sama besar di posisi duduk?

2. Menentukan titik pantul
Suara yang sampai ke telinga kita selain datang dari speaker datang pula dari pantulan dinding, lantai dan langit – langit. Untuk menentukan titik pantul anda dapat memakai sebuah cermin dan bantuan teman. Tandai titik pada dinding, lantai dan langit – langit diposisi anda duduk jika anda dapat melihat speaker. Pada titik inilah anda membutuhkan material peredaman.

Check List point 2:
· Berapa kali pantulan yang anda dengar di ruangan?
· Berapa lama delay(ms) pantulan pertama, kedua dan berapa besar?
· Apakah volume ruangan anda kurang dari 20m3 atau lebih?
· Apakah material pada titik pantul? Dinding? Karpet? Keramik? Gipsum?
· Berapa banyak titik pantul?

3. Menghitung karakter gema ruangan

Anda dapat mengetes gema pada ruang dengan tepukan tangan. (berepa besar pantulan dan berapa kali)

Pertama: Hitung volume ruangan anda
Kedua: Buat tabel luas permukaan dinding/lantai/langit-langit
Ketiga: Buat tabel luas permukan x koefisien pantulan tiap bahan
Keempat: Buat grafik karakter gema ruangan

Check List point 3:
· Dari tabel perhitungan pada frekuensi berapa pantulan dominan dan pada frekuensi berapa pantulan zero?
· Berapa besar nilai perlambatan pantulan untuk tiap frekuensi suara (microsecond)?

4. Perencanaan Akustik

Payahnya tiap permukaan material memiliki karakter pantulan/serap yang berbeda. Pada umumnya nada rendah cenderung dipantulkan oleh semua jenis bahan dan kalau kita memakai peredam pada keseluruhan dinding, lantai dan langit – langit yang terjadi adalah peredaman energi untuk nada tinggi dan nada rendah kurang teredam. Karenanya diperlukan perencanaan akustik yang tepat sehingga frekuensi yang berlebihan di serap (absorb) dan frekuensi yang kurang di sebar(diffuser)

Check List point 4:
· Pada titik mana yang harus di berikan akustik serap dan pada titik mana yang harus diberikan akustik sebar?
· Buatlah pola – pola asimetris yang meminimalkan efek ping pong pada ruangan.
· Bahan apa yang harus dipakai dan sistem pemasangannya?

5. Perencanaan design

Dalam melakukan perencanaan akustik janganlah lupa tentang perencanaan tema ruangan, warna, efek lampu, sofa. Untuk warna dinding sebaiknya pakai warna yang agak gelap untuk menghindari distorsi pada projector.

Check List point5:
· Apakah design yang diterapkan cocok dengan kepribadian anda?
· Apakah design yang diterapkan cocok dengan karakter rumah anda?
· Apakah anda memakai TV layar lebar, Plasma TV, proyektor?
· Apakah ruangan berfungsi hanya untuk home theater saja? Audio saja? Atau multi fungsi termasuk ruang keluarga, main game dsb?

6. Perhitungan akhir karakter gema ruangan

Setelah melakukan perencanaan diatas lakukan kalkulasi final karakter gema ruang setelah pemakaian akustik.

Pertama: Hitung volume ruangan anda
Kedua: Buat tabel luas permukaan dinding/lantai/langit-langit
Ketiga: Buat tabel luas permukan x koefisien pantulan tiap bahan
Keempat: Buat grafik karakter gema ruangan

Check List point 6:
· Apakah dengan perencanaan akustik karakter pantulan ruangan mendekati flat? Artinya tiap frekuensi sama besar dengan nilai perlambatan yang mendekati sama?

7. Perencanaan Kerja dan pengerjaan

Setelah itu masuk dalam perencanaan kerja. Jadwal kerja, tanggung jawab kerja, kontrol dsb.

Check List point 7:
· Berapa budget yang dibutuhkan? Apakah sesuai dengan rencana?
· Berapa lama waktu yang dibutuhkan?
· Siapa yang mengerjakan?
· Bagaimana kontrol point untuk tiap tahap kerja?
· Bagaimana perencanaan perkabelan di ruangan tersebut?

8. Pemasangan

Setelah selesai pengerjaan akustik sekarang tiba saatnya anda memasang peralatan.

Check List point 8:
· Apakah peralatan sudah dipasang dengan benar?
· Apakah posisi sudah rapih?
· Apakah kabel telah dicolok dengan benar?

9. Uji Coba dan Fine Tuning

Setelah alat dipasangkan dengan benar. Tiba saat nya uji coba peralatan.

Check List:
· SPL dari tiap speaker yang seragam diposisi duduk.
· Delay time dari tiap speaker
· Pengaturan perletakan speaker sehingga dicapai posisi suara “out of the box”
· Melakukan beberapa trik fine tuning yang dapat dipelajari dari teman – teman sehobi.

Dikarenakan ruang tulis yang terbatas dan kombinasi ruangan/perangkat yang sangat beragam tidak mungkin rasanya untuk menuliskan semuannya. Untuk yang berminat mendapat info yang lebih lengkap kami bersedia membantu anda, silakan datang ke VOKUZ untuk mendapat info yang lebih lengkap.

salam,
Herwin Gunawan

www.vokuz.com

Tips mereview review produk
Kita sebagai penggemar musik dan film sangat menginginkan perangkat yang sempurna untuk merepro film dan musik yang kita sukai. Salah satu perangkat yang sering kita pakai sebagai pedoman dalam memilih perangkat adalah review produk yang dilakukan majalah – majalah audio video.
Di Indonesia saat saya membuat tulisan ini ada beberapa majalah audio video yang rajin menuliskan review – review produk terbaru seperti majalah Audio Video, Audio Interior, dan What’s HiFi versi Indonesia. Sedangkan di luar Amerika ada beberapa majalah review subjektif seperti yang sangat terkenal adalah Absolute Sound, Stereophile sedangkan di Inggris seperti What’ HiFi, Hi Fi Choice, Hi Fi Plus. Belum lagi ditambah majalah – majalah review subjektif negara lain seperti Jepang, Hong Kong dan lain-lain. Adapula beberapa situs audio online independent yang rajin menuliskan review terhadap produk – produk.
Banyak penulis majalah memiliki kemampuan yang trampil dalam mendengar, secara teknis keahlian serta memiliki kemauan yang kuat membuat mereka bersedia untuk melaporkan keadaan yang sesungguhnya tentang produk audio. Ada sebuah pedoman dalam kewartawanan yang melambangkan etika dari banyak penulis produk high-end. “Tak punya perasaan takut atau tidak memihak”. Majalah seharusnya tidak perlu takut kepada Pabrik ketika menerbitkan tulisan negatif maupun mengharapkan menerbitkan sesuatu yang baik. Sebagai gantinya produk individu menciptakan mutu produk, serta suara yang serasi. Karena penulis high-end mendengar banyak produk dalam kondisi yang baik, mereka berada pada posisi ideal untuk menilai kelemahan serta jasa yang relatif dan melaporkan pendapat mereka. Penulis yang terbaik mempunyai kombinasi yang baik pada telinga, kejujuran, dan kemampuan teknis.
Review majalah audio terbagi atas dua kutub. Kutub pertama adalah kutub produsen dan kutub kedua adalah kutub pembaca. Majalah kutub produsen pemegang kendali adalah iklan, sumber dana mereka adalah dari pemasang iklan mereka. Sebaliknya, pada majalah kutub pembaca pemegang kendali adalah para pembaca, tujuan utama mereka adalah melayani para pembaca, bukan pemasang iklan mereka. Sebagai konsekuensi, majalah high end sering kali menerbitkan review yang negatif, sedangkan majalah Mass-market pada umumnya tidak. Lebih dari itu, majalah high-end jauh lebih membeda-bedakan sekitar pembuatan komponen yang baik, yang dapat direkomendasikan kepada pembaca. Majalah Mass-market menyediakan kepercayaan kepada orang-orang dijalan (dalam pandangan saya) tidak memperhatikan aspek reproduksi musik.
Review produk high-end tidak hanya harus lebih jujur, tetapi harus dapat membeda-bedakan dalam menentukan apa yang sesungguhnya produk yang pantas. Jika anda membaca majalah Hi-Fi yang tidak pernah memberi kritik pada produk, berhati-hatilah. Tidak semua komponen audio berharga; oleh karena itu, tidak semua review majalah harus menyimpulkan rekomendasi.
Berikut adalah beberapa pedoman dalam menilai sebuah review pada majalah audio:
1. KENALI PENULIS REVIEW
Belajarlah untuk mengenal penulis dengan menghubungkan review yang sedang anda baca dengan penulisnya. Saat membaca review lihatlah nama yang menulis review itu.
Pertama – tama lihat jenis lagu yang sering dipakai untuk mereview produk tersebut, apakah dia penggemar lagu klasik, lagu country, lagu jazz dan sebagainya. Apakah selera penulis sesuai dengan selera anda.
Kedua lihat peralatan pendukung yang dipakai apakah peralatan tersebut mirip dengan perangkat yang anda gunakan.
Ketiga lihat kecenderungan penulis, setiap penulis memiliki kecenderungan tersendiri. Ada yang menyukai suara yang berdinamika, ada yang menyukai kegesitan dan sebagainya.
2. PENULIS MEMILIKI TINGKAT KEAHLIAN YANG BERBEDA
Jangan beranggapan bahwa penulis review memiliki keahlian yang sama. Penulis review sama dengan profesi yang memerlukan keahlian seperti tukang kayu, dokter dan lain-lain. Penulis review menyandang predikat kompetensi yang berbeda. Ada penulis yang telah malang melintang dalam beberapa dekade dan ada pula pendatang baru yang tidak memiliki komitment pengalaman serta pengetahuan untuk profesi itu. Reputasi penulis dipertimbangkan dari catatan serta pengalamannya.
3. HAKIMI REVIEW TERSEBUT SESUAI DENGAN PENILAIAN ANDA
Terakhir, dengarkan produk itu sendiri. Jika dua komponen dibandingkan dalam review, dengar dan bandingkan produk tersebut dengan persepsi penulisnya. Sekalipun anda bukan mencari produk yang ada pada review, mendengarkan komponen itu akan mempertajam ketrampilan anda, serta dapat mempertimbangkan perspektif nilai penulis review.
Ada beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan pada saat membaca review sebagai berikut:
1. TERLALU BERPATOKAN MATI TERHADAP REVIEW
Kesalahan umum yang sering terjadi dalam memilih perangkat audio video adalah berpatokan hanya pada review bukan dengan menguji perangkat tersebut. Review seharus dipakai sebagai titik pandangan bukan sebuah nilai mutlak terhadap kualitas mutu produk tersebut. Membeli produk yang hanya didasarkan pada review akan dipenuhi dengan bahaya. Jangan pernah lupa bahwa review tidak lebih dari pendapat seseorang atau bisa juga sebagai informasi atau pendapat dari orang yang lebih berpengalaman dari kita. Lebih dari itu, jika pendapat penulis berbeda dengan selera anda maka akhirnya anda akan membeli komponen yang tidak anda sukai. Kita semua memiliki prioritas yang berbeda dalam menilai kualitas suara; apa yang penulis nilai adalah suara yang terbaik, sebagai contoh mungkin penilaian kecepatan suara akan dinilai rendah. Prioritas anda yang utama ketika memilih komponen musik playback. Percaya pada pendengaranmu.
2. KURANG TELITI DALAM MENILAI REVIEW
Pertama pembaca dengan penglihatan yang tajam dapat menemukan produk mana yang khusus bagi penulis. Kebanyakan penulis mendaftarkan sistem referensi mereka dengan produk baru. Ketika produk tertentu muncul dalam sistem referensi review sesudah review, anda dapat yakin bahwa penulis berpikir bahwa produk tersebut adalah produk yang baik. Tanda yang lain untuk membuktikan bahwa produk tersebut baik, jika penulis membeli produk tersebut untuk dirinya sendiri.
Kedua kadang – kadang ada produk diberi kan predikat bintang lima atau rekomendasi tetapi di oleh penulis review yang lain diberi penilaian kurang baik.
3. MENJADI KESAL JIKA PRODUK YANG DIBELI MENDAPAT REVIEW YANG KURANG BAIK
Kata terakhir tentang review produk: jangan berhenti untuk menikmati musik jika komponen yang telah anda beli mendapat review yang buruk. Anda telah menikmati musik dari produk tersebut sebelum review itu muncul; mengapa pendapat orang lain yang harus menghilangkan kenikmatan musik anda? Baik atau Buruk, review majalah membawa banyak pengaruh dalam pikiran pembaca dan dalam pasaran.
4. MEMBELI BARANG BERDASARKAN REVIEW BEBERAPA PENULIS BERBEDA TANPA MEMPERHATIKAN “SISTEM MATCHING”
Penulis review A memberikan predikat bintang lima terhadap speaker XYZ. Kemudian penulis review B memberikan predikat rekomendasi terhadap ampli ABC. Tetapi begitu dipasang di rumah yang terjadi adalah hasil yang sangat jelek.
KESIMPULAN
Manfaat review produk dengan bijaksana:
- Mengetahui prioritas musik penulis masing-masing. Menemukan perbedaan penulis dalam menilai musik serta kecepatan suara.

- Memadukan ide/pendapat anda dengan ide/pendapat penulis tentang suatu produk. Ini tidak hanya memberi anda perasaan sebagai seorang penulis, juga akan membuat anda menjadi pendengar yang terbaik.
- Jangan memberi cap yang sama kepada semua penulis. Pertimbangkan juga reputasi serta pengalaman penulis dilapangan. Berapa banyak kesamaan produk yang telah dibuat oleh penulis? Sebagai contoh, jika penulis yang telah mendengar hampir tiap-tiap semua model digital processor, pendapat mereka akan jauh lebih berharga dibandingkan dengan penulis yang hanya mendengar sedikit model.
- Jangan membeli atau menolak produk semata-mata karena didasarkan oleh review. Gunakan rekomendasi produk sebagai titik awal untuk penilaian produk bagi anda sendiri. Dengarkan produk tersebut sendiri, lalu putuskan apakah produk tersebut cocok untuk anda. Biarkan telinga anda yang memutuskan.

Demikian tulisan ini saya buat dengan harapan dapat memberikan masukan yang baik bagi anda.
Salam,
Herwin Gunawan

www.vokuz.com

Sebagai seorang audiophile/videophile tentu merupakan suatu dambaan apabila komponen yang mereka beli dapat dirasakan keindahannya dan kemerduan dari suara yang dihasilkannya. Tetapi dalam kenyataannya, sulit sekali kita dapat terpuaskan dari suara yang dihasilkannya. Dan tantangan kedua adalah bagaimana memaksimalkan kepuasaan kita dengan budget yang ada.

 

Planning

Planning merupakan hal yang terpenting sebelum melakukan suatu kegiatan baik dalam komunitas kerja maupun dengan kegiatan sehari-hari . Demikian pula pada saat ingin membeli barang elektronik, penting sekali apabila kita sudah dapat menentukan barang apa yang kita beli, berapa harganya dan kenapa kita beli komponen tersebut sebelum keputusan membeli suatu barang dilakukan.
Langkah pertama adalah menentukan berapa besar anggaran yang dialokasikan untuk membangun system audio. Tentukan batasan maksimal dan target komponen yang akan dibeli. Kita perlu berhati – hati dengan ambisi kita dalam berburu peralatan high – end. Banyak sekali kasus dimana seorang audiophile telah berbelanja sampai angka yang luar biasa namun suara yang dihasilkan dari system audionya tidaklah sebanding dengan apa yang telah dikeluarkannya. Bukan karena komponenya jelek tetapi karena komponen-komponen tersebut tidak bersinergi menghasilkan suara yang baik tetapi justru sebaliknya. Misalnya loudspeaker yang dipilih adalah yang berkarakter “bright dan super detail” dan amplifier yang dipilh juga yang berkarakter “bright” . Alhasil, system audionya hanya dapat didengar pada setengah jam pertama sedangkan selanjutnya kita sudah capek dan jenuh dibuatnya.

Pengenalan Komponen

Sebagai awal membangun sistem audio ada baiknya mengetahui komposisi umum untuk sebuah system audio high end :

Sumber Suara: CD Player, Turntable atau perangkat sumber suara lain

Penguatan suara: Integrated Amp atau Pre-Power Amp
Speaker: Monitor, Floorstand
Perkabelan: Interkonek, Speaker
Aksesoris: Power Conditioner, Equipment Platform
Ruang Dengar: Akustik

Setelah mengetahui kompsisi komponen dasar suatu system High End, selanjutnya adalah menentukan berapa budget yang akan dialokasikan ke masing-masing komponen tersebut. Yang paling umum berlaku adalah sebagai berikut :

Sumber Suara: 20%
Penguat Suara: 30%
Loudspeakers 40%
Cable & Accessories 10%
Total = 100%
Budget ruang dengar idealnya sekitar 30% – 75% dari total harga diatas. Tetapi hal ini tidak mutlak.

Loudspeakers

Dari table diatas terlihat bahwa loudspeaker yang paling banyak menyerap dana dari suatu sistem High End. Mengapa? Karena loudspeakers memang merupakan hal yang plaing vital dari reproduksi suara. Loudspeakers merupakan penguat suara paling akhir dan yang paling menentukan dari warna suara yang dihasilkan. Setiap pergantian speaker dapat dengan mudah dirasakan walupun oleh seorang pendengar biasa. Untuk membedakannya tidak diperlukan seorang audiophile yang bertelinga emas. Treble yang lebih terbuka, mid yang manis ataupun gebukan bas yang dalam dan tight dapat dengan mudah didengar perbedaannya dan sangat terpengaruh dari kualitas loudspeaker yang terpasang. Oleh karena itu komponen ini layak menerima sumbangan dana yang anda alokasikan untuk membangun suatu system reproduksi suara.
Hal paling mudah untuk menentukan suatu loudspeaker yang baik adalah resonansi box loudspeaker tersebut. Biasanya box yang baik adalah yang tidak menimbulkan resonansi bunyi sama sekali atau menekan sekecil mungkin resonansi bunyi. Karena resonansi menimbulkan bunyi yang tidak dikehendaki dalam reproduksi suara dan meyebabkan kolorasi suara. Untuk mengetahui kualitas box speaker adalah cukup dengan mengetuk secara halus box nya. Jika menimbulkan suara yang kosong hampir dapat dipastikan resonansi suara yang timbul besar dan apabila terkesan mati atau berisi maka box tersebut mempunyai efek resonansi yang kecil.
Manufaktur-manufaktur terkemuka banyak menginvestasikan dananya untuk riset dan perkembangan teknologi box speaker, seperti Wilson Audio Specialties dengan teknologi “M Material” yang sangat rumit pembuatannya, Celestion yang mengembangkan bahan Aerolam, bahan untuk pesawat ruang angkasa pada seri SL600/700, atau Rockport Technologies yang menggunakan campuran granit dan plastic pada seri Antares. Namun, bahan yang paling banyak dipakai untuk membuat loudspeaker yang baik adalah MDF (Medium Density Fiberboard) karena MDF ini mempunyai sifat yang meredam suara dan mudah dibentuk.
Driver-driver yang terpasang juga memegang peranan yang penting. Driver bisa dibuat dari bahan logam, plastic, kertas bahkan keramik yang harganya sangat mahal. Karakter yang dibentuk dari berbagai jenis driver ini pun berbeda-beda.
Lebih jauh, Crossover pada speaker turut memberi peran yang tidak kalah penting. Penentuan cut off frekwensi, integrasi antar driver dan lain-lain diatur dalam modul kecil yang terletak di belakang atau bawah kotak speaker ini. Terkadang ada manufaktur yang merancang crossover sedemikian rumit untuk memperoleh hasil suara yang bagus, namun dilain sisi ada pula manufaktur yang membuat speaker dengan konsep crossover less, dengan alas an akan memperpendek signal suara .

Amplifier

Komponen ini terletak di tengah-tengah antara sumber suara dan loudspeaker. Ia merubah signal kecil dari sumber suara dan diperbesar agar dapat diterima oleh loudspeaker. Umumnya para audiophile lebih suka ada pemisahan antara Pre Amplifier dengan Power amplifier. Pre amplifier yang biasa kita kenal berfungsi sebagai control amplifier dimana terdapat fungsi untuk mengatur besar kecil volume, balance control, asal sumber suara (input) dan menyediakan multi output untuk koneksi 2 power amplifier atau lebih. Komponen ini sangat berpengaruh dalam memberikan warna suara dalam suatu system high end dan layak mendapat perhatian yang serius.
Sedangkan power amplifier merupakan fungsi yang sesungguhnya dari penguat suara yakni dengan membesarkan signal suara kecil dari pre amplifier ke speaker. Mengapa dipisahkan? Para audiophile meyakini bahwa adanya arus listrik yang kuat pada power amplifier dapat mempengaruhi warna suara yang dihasilkan sebuah pre amplifier.
Namun dengan kemajuan teknologi akhir-akhir ini, integrated amplifier pun cukup mendapat hati dari para audiophile. Hal ini karena susunan konstruksi dalam suatu amplifier dapat dipisahkan secara murni oleh integrated amplifier modern sehingga issue signal interference dapat diminimalkan dan bahkan dieliminasi. Manufaktur-manufaktur elektronik terkemuka dari Amerika Serikat seperti Mark Levinson dan Krell yang dulu konsisten dengan konsep pemisahan pre dan power pun kini mulai memproduksi integrated amplifier seperti Mark Levinson ML383 dan Krell KAV 400 XI dsb.

CD/SACD/DVDA Player

Bagaimana kita bisa mendapatkan suara yang baik jika sumber suaranya jelek? Demikianlah pertanyaan yang muncul untuk menggambarkan peranan dari komponen ini. Dewasa ini banyak sekali pilihan format yang dapat kita gunakan sebagai sumber suara. Kita tidak akan membahas perbedaannya kembali satu per satu tetapi perlu diingat apapun pilihan formatnya yang terbaik adalah yang dapat membawa real life music di ruang dengar kita. Sejauh ini Piringan Hitam (LP) yang diset up secara baik, menurut pandangan audiophile, belum tertandingi oleh format digital masa kini.
Cara kerja pemutar CD terdiri dari 2 fungsi utama yaitu membaca data signal dan yang kedua merubah signal digital tersebut ke analog sehingga dikenal istilah CD Transport dan Digital Analog Converter (DAC). CD transport hanya berfungsi membaca data pada disc dan kemudian dikeluarkan dalam format digital sedangkan yang bertugas untuk mengkonversi data dari format digital ke analog adalah komponen DAC. Mengapa harus dipisah? Audiophile meyakini bahwa struktur mekanikal pemutar CD ketika membaca CD yang diputar cepat akan meyebabkan getaran yang efeknya mampu mempengaruhi kualitas suara pada saat signal diproses dari digital ke analog di modul DAC. Disamping itu didalam CD Transport papan atas struktur mekaniknya cukup rumit untuk meredam getaran sehingga menyita sebagian besar ruang dari komponen tersebut. Demikian pula dengan DAC yang baik, sering dijumpai Power Supply yang besar untuk mensupply listrik yang stabil ke processor dan komponen elektronik lainnya.

Ruang Dengar
Apabila memungkinkan, usahakanlah untuk mempunyai ruang dengar khusus yang telah ditreatmet akustik. Treatment akustik bukan berarti sebuah ruangan kedap suara tanpa pantulan atau yang biasa disebut dead room. Dead room justru cenderung berefek negative terhadap system audio. Treble menjadi dull, tidak open dan tidak detail. Vocal menjadi tidak rich dan terkesan keluar dari tenggorokan.
Yang terbaik adalah apabila ruangan tersebut menyisakan sedikit ruang yang hidup sehingga reverberant suara masih bermain di space tersebut. Umumnya para audiophile menggunakan beberapa perangkat room treatment seperti Echo Buster atau RPG Diffusor dan sebagainya untuk setting sebuah ruangan. Beberapa perangkat tersebut bahkan special dibuat untuk tidak menyerap suara tetapi justru memecah dan memantulkannya kembali sembarang arah. Dipercaya teknologi ini mampu untuk membuat suara lebih hidup dibanding menyerap eneginya yang cenderung akan membuat treble menjadi dull.
Apabila kita tidak dapat mengusahakan ruangan dengar khusus dan terpaksa harus ditempatkan di ruang tamu atau tempat lain yang terbuka yang tidak memungkinkan dipasang perangkat room treeatment, usahakan di sudut ruangan di belakang speaker ditempatkan peredam seperti busa atau glass wool untuk meredam gema bass yang excessive.
Ukuran ideal untuk sebuah ruang dengar adalah 5 m x 8 m. x 3 m (pxlxt) karena dengan ruangan sebesar ini kita dapat menempatkan speaker floorstanding full range yang dapat menghasilkan medan suara yang besar dan tampilan vocal penyanyi yang utuh dari kepala samapai ke kaki. Layaknya si penyanyi atau pemain instrument tersebut hadir di ruangan tersebut.

Uji Dengar
Setelah itu yang paling vital adalah uji dengar. Referensi buku atau majalah bisa membantu untuk memperkecil kemungkinan tetapi belilah barang yang sesuai dengan selera kita. Karakter suara dan jenis musik yang kita sukai dan pilihlah komponen yang mendekati apa yang kita inginkan.
Bawalah cd lagu kesukaan yang telah kita kenal dan sering dengar sebagai bahan referensi. Kemudian lakukankanlah comparative test A/B yaitu dengan mencoba amplifier yang kita inginkan. Kenali karakter suaranya kemudian gantilah dengan amplifier pembanding lain lalu catat perbedaannya. Kemudian kembali lagi ke amplifier yang kita inginkan. Dengan melakukan hal ini memungkinkan kita untuk lebih jelas mengetahui kelemahan dan kelebihan dari salah satu amplifier tersebut. Bila mencoba pre amp dengan fasiltas by pass, akan lebih memudahkan lagi. Kita dengar pre amp tersebut melalui jalur signal suaranya kemudian kita by pass jalur signalnya sehingga yang berfungsi murni hanya volume control saja. Dari sini kelebihan dan kekurangannya akan terdeteksi dengan jelas.

Tahap Pembelian
Pilihlah toko yang menyediakan ruang khusus untuk uji dengar atau bahkan toko yang menawarkan untuk langsung uji dengar di rumah kita. Dengan demikian kita tidak akan kecewa karena suara yang dihasilkan di toko berbeda dengan pada saat terpasang di rumah.
Harga memang merupakan suatu factor tetapi apabila kita sudah mendapat servis yang demikian baik dari suatu toko dengan menawarkan uji dengar di rumah, maka seyogyanya kita membeli barang dari toko tersebut. Tentunya sang pemilik toko yang akan kecewa apabila ia telah memberikan servis terbaiknya tetapi mengetahui bahwa kita membeli barang tersebut dari toko lain yang menawarkan lebih murah.

Happy Hunting !

Erwin Atmaja
gudangpeluru@yahoo.com
www.vokuz.com

Menciptakan panel akustik untuk ruang dengar anda dapat dilakukan dengan sederhana seperti menggantung permadani di dinding sampai pada panel-panel akustik yang canggih dengan perhitungan dan material khusus. Anda dapat merasakan perubahan kualitas suara hanya dengan menambahan atau memindahkan bahan-bahan yang umum seperti karpet, permadani, dan korden. Panel akustik ini tergolong murah dan sederhana, terkadang memiliki estetika yang lebih baik dan menyenangkan. Pada tulisan ini saya mengajak anda untuk memahami teori panel akustik dan teknik perancangan panel akustik yang sederhana.
Gambar 13.1
Beberapa reaksi permukaan terhadap gelombang suara

Pada gambar 1.1 kita lihat beberapa reaksi permukaan terhadap gelombang suara.

1. Reaksi serap

Reaksi serap terjadi akibat turut bergetarnya material terhadap gelombang suara yang sampai pada permukaan material tersebut. Getaran suara yang sampai dipermukaan turut menggetarkan partikel dan pori – pori udara pada material tersebut. Sebagian dari getaran tersebut terpantul kembali ke ruangan, sebagian berubah menjadi panas dan sebagian lagi di teruskan ke bidang lain dari material tersebut. Contohnya kita dapat mendengarkan suara musik yang diputar dari ruang sebelah kita jika dinding ruang tersebut tidak dipasangkan peredam suara.

Umumnya bahan kain, kapas, karpet dan sejenisnya memililki reaksi serap yang lebih tinggi terhadap gelombang suara dengan frekuensi tinggi dibandingkan dengan frekuensi rendah.

Sedangkan bahan tembok, kaca, besi, kayu umumnya meneruskan sebagian energi gelombang nada rendah ke sisi lain dari material tersebut, dan sebagian gelombang suara bergetarnya menjadi panas dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke ruang dengar.

2. Reaksi pantulan

Hampir semua permasalahan ruang dengar adalah minimnya panel akustik pada permukaan dinding, lantai, plafon ruang tersebut. Jika permukaan dinding, lantai dan plafon memantulkan kembali sebagian dari energi suara maka kita akan mendengar suara pantulan. Suara pantulan ini bagai bola ping pong yang mana pantulan suara terdengar walau suara asli telah mati. Dalam ruang kosong anda dapat menepuk tangan anda dan mendengar suara pantulan setelah anda menepuk tangan anda. Suara pantulan terjadi berkali-kali dengan waktu dan bunyi yang tak teratur. Efek ini seperti anda masuk ke rumah cermin dimana anda dapat melihat bayangan anda berpuluh – puluh jumlahnya. Suara pantulan ini mengaburkan suara hentakan alat musik dan memberi bunyi tambahan setelah hentakan alat musik

Lakukan eksperimen dengan menepukan tangan anda di beberapa ruang dirumah seperti kamar mandi, ruang makan, kamar tidur dsb. Jika ruang dengar anda memiliki suara pantulan sama dengan apa yang anda dengar didalam kamar mandi maka anda perlu panel akustik untuk magatasi masalah ini.

Mengatasi suara pantulan sangatlah mudah, dengan solusi sederhana yaitu dengan meletakkan panel akustik yang berfungsi sebagai penyerap suara yang tak diinginkan atau diffuser yang menyebarkan energi pantulan ke berbagai arah, akan meniadakan pengulangan pantulan suara. Materialnya bisa berupa permadani yang digantung di dinding, karpet diatas lantai, korden pada dinding/jendela, atau material penyerap suara di dinding.

Material yang efektif untuk pengendalian suara pantulan tanpa membuat ruang terlihat buruk adalah menggunakan bahan korden yang tipis seperti penggunaan di airport atau ruang konferensi. Selain itu ada pula solusi yang mahal yaitu produk khusus untuk panel akustik. Kelebihannya adalah karakteristik penyerapannya yang sangat baik untuk mencegahan suara pantulan tanpa menyerap banyak energi sehingga membuat ruangan “mati”.

Gambar 13.2
Garis suara langsung dan pantulan yang di dengar

Pada gambar 13.1 terlihat speaker yang ditempatkan di ruang dekat dinding dan lantai. Kita akan mendengar suara langsung dari speaker plus suara pantulan dinding, lantai, dan plafon. Suara pantulan tersebut terdengar sedikit lebih lambat dari suara langsung plus warna suara yang berbeda, dan fase suara yang berbeda pula. Gabungan semua suara pantulan dan suara langsung mengakibatkan penurunan kualitas suara yang kita dengar.

Tiga hal yang mengurangi kualitas suara karena pantulan dinding adalah:

Pertama, Suara off-axis dari speaker tidak seakurat (ada kolorasi) suara on-axis. Sehingga suara yang menyembur ke dinding memiliki rentang frekuensi yang tidak rata. Jadi saat suara pantulan dari suara off axis speaker sampai ke telinga kita maka kita akan mendengar kolorasi suara

Kedua, permukaan dinding memberikan kolorasi terhadap suara yang dipantulkan. Misalnya jika material dinding memiliki karaker serap pada nada tinggi tetapi tidak pada nada mid, maka suara yang terpantul hanya pada nada mid dan kurang pada nada tinggi

Ketiga, suara langsung dan suara pantulan sampai ketelinga pendengar dalam fase dan tempo yang berbeda.

Perbedaan waktu akibatkan jelajah suara langsung dan pantulan dapat dihitung. Seperti kita ketahui bahwa kecepatan rambatan suara di udara pada kecepatan 300 meter per detik, maka kita dapat menghitung selisih waktu. Jika perbedaan jarak antara suara langsung dan suara pantulan adalah 1,5 meter maka suara pantulan yang kita dengar memiliki perlambatan sebesar 5 mili detik.

Fenomena ini dinamakan “comb filtering”, dimana dua buah gelombang suara dengan selisih fase pada puncak dan lembah gelombang yang saling meniadakan atau saling memperkuat frekuensi tertentu. Hal ini menyebabkan kolorasi suara yang kita dengar.

Suara pantulan dinding tidak hanya mengganggu keseimbangan warna suara, mereka juga menghancurkan image musik dan soundstage.

Pantulan suara dari lantai dan plafon turut memberi gangguan, misalnya melemahnya suara pada nada mid, membuat suara menjadi tipis. Pantulan suara plafon memberi pengaruh yang lebih sedikit karena jarak yang cukup jauh dan pancaran suara yang relative lebih lemah ke arah plafon.

3. Reaksi sebar

Salah satu solusi akustik yang terbaik adalah meletakan panel serap dan sebar (difusi) pada bidang pantul pararel. Pantulan suara dari lantai mudah untuk diatasi dengan meletakan karpet atau permadani. Frekuensi rendah, biasanya, tidak terserap oleh karpet atau rug, menghasilkan fase negative pada frekuensi midbass yang saling meniadakan, akibat interfensi suara langsung dan suara pantulan, sering disebut dengan “Allison Affect”, diambil dari nama designer loudspeaker Roy Allison, yaitu orang pertama mempublikasikan fenomena ini.

Perlu di ingat, jenis karpet berhubungan pula dengan kualitas suara. Sebagai contoh karpet wool memilki suara yang lebih alami dibandingkan dengan karpet sintetik. Karena serabut padan karpet wool memiliki panjang dan ketebalan yang tidak sama, sehingga masing – masing serabut menyerap frekuensi yang berbeda. Karpet sintetik, sebaliknya, terbuat dari serabut dengan panjang dan ketebalan yang persis sama sehingga masing – masing serabut menyerap frekuensi yang sama.

…bersambung ke halaman berikut

…sambungan dari halaman sebelumnya

4. Beberapa teori panel akustik

Pantulan dinding seharusnya disebar (difuse) dan diserap. Panel Sebar mengubah energi suara dari satu arah dan satu besaran menjadi ke beberapa arah dengan beberapa besaran.

Panel sebar dapat dibuat sendiri atau dengan membeli panel sebar yang sudah jadi. Rak buku terbuka yang penuh dengan beragam buku dengan besar dan tebal yang berbeda adalah panel sebar yang ampuh.

Panel serap pada dinding dengan materi serap akustik. Sampai sekarang dunia High End masih memperdebatkan solusi yang lebih baik antara memakai panel serap atau panel sebar. Yang beranggapan panel sebar lebih baik menggaris bawahi keuntungan penyebaran suara ke beberapa arah dengan beberapa besaran memberikan kesan suara berada di sebuah “ruang” dan “hawa” musik lebih mengalir. Sedang yang beranggapan panel serap lebih baik berpendapat dengan pantulan suara melebih 20mili detik dari suara langsung menurunkan kualitas suara yang kita dengar. Kebanyakan pada studio rekaman ruang kontrol di rancang untuk menghasilkan sebuah ruang “reflection free zone” (RFZ) dimana sound engineer duduk, dia hanya mendengar suara langsung dari speaker monitor. Berdasarkan pengalaman panel serap pada dinding kiri kanan lebih baik disbanding dengan panel sebar, tetapi panel sebar dibelakang tempat duduk pendengar akan lebih baik dibanding dengan panel serap. Hal ini tidak ada perdebatan.

Salah satu produk yang tepat untuk pengontrolan refleksi sisi dinding adalah “Reflection Control Panel”yang dikembangkan oleh Acoustic Revolutionary Technology. Sebuah panel dengan tingkat serapan yang baik. Panel ini dapat di set secara sederhana, pada titik pantul di dinding, panel ini mencegah pantulan suara pertama.

Cara menentukan titik pantul sangatlah mudah, dengan bantuan seorang kawan dan sepotong cermin anda dapat menentukan titik pantulan dengan mudah. Minta teman anda untuk memegang cermin dan anda duduk di posisi dengar. Minta teman anda untuk meletakkan cermin pada dinding sampai anda dapat melihat posisi driver speaker anda. Berikan tanda pada titik tersebut dan ulangi prosedur ini berualang kali sampai anda mendapatkan semua titik pantul.

Panel akustik yang diletakan pada titik pantul dapat memperbaiki tata panggung musik. Dinding akan memantulkan suara dari sisi kanan dan sisi kiri speaker. Suara pantulan speaker kiri dari dinding sebelah kanan mengaburkan tata panggung musik dan kelebaran panggung musik. Suara pantulan seperti ini kerap disebut “Acoustic crosstalk”; kita tidak mau telinga kiri kita mendengar pantulan suara speaker kanan.

Catatan tambahan panel akustik yang di letakan dengan sedikit jarak dari dinding menciptakan bidang yang lebih luas disbanding panel akustik yang di tempel ke dinding. Jarak antara panel akustik dan dinding menyebabkan bidang tambahan akustik, membuat kerja panel serap menjadi lebih baik. Teknik ini dapat diterapkan ke semua bidang pantul di ruang dengar.

5. Membuat panel serap nada rendah

Bass berdengung dan tebal sangat sering di temukan dan sangat sukar di atasi. Hal ini terjadi akibat pertama adalah dari resonansi ruang (baca artikel akustik kami yang pertama), kedua adalah penempatan speaker yang tidak benar (baca artikel akustik kami yang ketiga), ketiga adalah minimnya panel serap frekuensi rendah di ruang dengar.

Jika masalah bass tetap terjadi walau telah dilakukan perletakan speaker secara benar atau anda telah mengubah dimensi ruang dengar anda sehingga tidak ada penggemukan bass akibat resonansi ruang, maka solusinya adalah dengan menambahkan panel serap frekuensi rendah. Panel serap ini mencegah pantulan nada rendah kembali ke ruangan yang menyebabkan suara bass langsung bercampur dengan suara bass pantulan.

Teori dasar penyerapan frekuensi rendah adalah mengubah energy nada rendah menjadi bentuk energi lain yaitu energi panas. Panel serap nada rendah dapat di beli yang sudah jadi seperti Acourete – Corner Correction, yang dibuat dengan material dan design khusus yang dapat cocok di letakan di ruang dengar.

Atau anda dapat membuat sendiri panel ini dengan biaya yang relatif murah. Panel ini, disebut panel Air Suspension, memiliki daya serap yang tinggi pada frekuensi rendah. Panel serap dapat dibuat tersendiri atau menempel ke dinding. Pertama – tama buat bingkai kayu dengan ukuran 1200 mm x 2400 mm di pantek ke dinding. Setelah itu bubuhkan silicon siler pada siku – siku antara kayu dan dinding sampai kedap udara, setelah itu isi rongga tersebut dengan material penyerap suara seperti Acourete Fiber. Lalu, tutup rangka kayu tersebut dengan selembar plywood atau Acourete Board. Buatlah lubang – lubang keci pada lembaran panel. Kini anda telah memiliki panel serap nada rendah.
Ada beberapa panel serap yang tidak dilubangi, hanya menggunakan lembaran tipis yang bergetar jika menerima gelombang suara. Frekuensi serap dapat di sesuaikan dengan mengatur volume rongga udara di dalam panel, rongga berukuran 60cmx120cm, 60cmx240cm, 60cmx300cm, atau 60cmx360cm dengan ketebalan panel. Bahan serap high density di rongga panel berfungsi memperluas kemampuan redam pada frekuensi yang lebih lebar. Kita dapat mengatur rentang frekuensi serap dari nada paling rendah ke nada mid dengan mengatur besaran ketebalan x luas panel rongga panel dan jumlah dan ukuran lubang. Kebanyakan ruang dengar memerlukan penyerapan bass, tetapi panel serap dapat pula diatur untuk menyerap frekuensi tertentu saja untuk meminimalkan masalah resonansi ruang. Panel serap yang independent dapat dibangun dengan cara yang sama, dengan landasan material yang kokoh, misalnya 20mm triplek. Untuk perhitungan detail panel serap dapat ditemukan di buku yang di karang oleh F.Alton Everest’s The Master Handbook of Acoustics.

Cara lain untuk membuat panel serap frekuensi rendah adalah dengan membuat rongga pada dinding, lalu ditutup dengan material serap. Struktur ini kerap disebut “quarter wavelength trap”. Panel serap ini memiliki frekuensi serap pada ¼ frekuensi gelombang suara.

Rumus perhitungan frekuensi serap adalah:

F = 300/4D

F= adalah nada yang di serap (dalam Hz)
300 (meter/detik) adalah kecepatan suara (berbeda-beda tergantung suhu udara)
D = ketebalan rongga (dalam meter)

Jika membuat rongga dengan ketebalan 0.6 meter maka frekuensi serapnya adalah:

F = 300/ 4 x 0.6 = 125 Hz

Selain itu frekuensi serap terjadi pada harmoni pertama, kedua, ketiga dst:
harmoni ke dua 250 Hz, harmoni ke tiga kedua: 375 HZ, harmoni ke tiga: 500Hz dan seterusnya.

Korden dan rongga jendela juga mempunyai fungsi sebagai panel serap nada rendah.
Demikian tulisan ini saya buat semoga bermanfaat bagi penggemar musik dan penggemar audio.

Salam,
Herwin Gunawan
www.vokuz.com

www.vokuz.com

Mendapatkan suara terbaik di ruang dengar dengan pengaturan penempatan speaker dan posisi dengar

Ruangan yang yang memadai akan menghasilkan efek kualitas suara yang baik. karakter akustik ruang pendengar harus menjadi bahan pertimbangan dalam merencanakan susunan perangkat audio anda. Setiap ruang dengar memiliki sifat suara tersendiri. Ruang yang tepat dapat membantu mendapatkan hasil terbaik dari perangkat yang sederhana sebaliknya ruang yang kurang tepat dapat membuat suatu perangkat hebat bersuara ambur adul.

Salah satu aspek yang terpenting dalam perencanaan akustik adalah penempatan speaker dan posisi dengar disamping yang sudah dibahas dalam artikel pertama dan kedua mengenai resonansi dan gema ruang.

Penempatan loudspeaker
Masalah yang paling mendasar beberapa ruang dengar adalah minimnya penempatan loudspeaker. Penempatan speaker yang benar adalah salah satu faktor yang s penting didalam mendapatkan suara yang bagus diruangan anda. Keseimbangan nada rendah dan tinggi ditentukan oleh penempatan speaker. Besar-kecil dan kualitas bass, latar musik yang lebar dan tiga dimensi, kebersihan nada tengah, artikulasi dan tampilan musik. Untuk itu kita perlu menguasai 6 jurus penempatan speaker dan posisi dengar untuk mendapat suara terbaik.

Gambar 1
Keterangan Gambar
PR : Panjang Ruang
LR: Lebar Ruang
A: Jarak punggung speaker ke dinding
B: Jarak sisi speaker ke dinding
C: Jarak antara 2 speaker
D: Jarak pendengar ke speaker
E: Jarak pendengar ke dinding
F: Jarak panel depan speaker ke dinding
G: Jarak pendengar ke dinding
H: Sudut pendengar terhadap speaker

1. Menemukan sweet spot yang optimal.

A. Titik dengar dan loudspeaker harus membentuk segi tiga sama sisi. Jika tidak anda tidak akan pernah mendengar soundstaging yang bagus dan menakjubkan. Faktor penting dalam mendapatkan suara yang bagus adalah hubungan geometriks dua speaker dan pendengar. Pendengar harus duduk tepat dengan kedua speaker, jarak pendengar ke speaker sebaiknya lebih besar disbanding dengan jarak antara speaker. Gambar 1 menunjukan speaker dan posisi dengar. Singkatnya posisi dengar dimana musik akan terfokus jelas dengan latar musik yang terbentang dinamai: “sweet spot”.

B. Semakin besar jarak antar speaker akan memberi efek latar musik yang semakin luas. Pada tahap ini anda dipersilakan untuk melakukan eksperimen untuk mendapatkan latar musik yang optimal.

C. Semakin besar jarak titik dengar ke speaker memberikan fokus suara yang lebih baik. Untuk tahap ini anda harus melakukan beberapa kali ekperimen untuk mendapatkan fokus musik yang optimal.

D. Tetapi sayangnya point B dan C saling bertolak belakang. Jika anda mendapatkan latar musik yang lebar maka fokus musik menjadi kurang tegas dan sebaliknya. Untuk itu anda harus melakukan beberapa kali eksperimen sehingga didapat hasil yang optimal antara latar musik yang lebar dan fokus musik yang tegas.

2. Menemukan keseimbangan nada rendah dan nada tinggi yang optimal

A. Jarak speaker ke dinding bagian belakang speaker mempengaruhi besar-kecil nada rendah. Semakin dekat speaker ke dinding akan memperkuat repro nada rendah bass membuat repro musik menjadi lebih berat. Tetapi ada beberapa rancangan speaker khusus untuk didekatkan ke dinding; mereka memerlukan penguatan untuk keseimbangan frekuensi. Suara loudspeaker terdengar kecil jika ditempatkan jauh dari dinding. Ketika speaker ditempatkan dekat dinding enegi bass akan terpantul ke ruamg dengar dengan fase yang sama dengan suara bass dari speaker. Artinya pantulan nada rendah memperkuat nada rendah yang keluar dari speaker.

B. Semakin kecil jarak speaker dinding samping juga memperkuat nada rendah. Penempatan yang tepat akan memberikan keseimbangan frekuensi musik. Penempatan yang kurang tepat menyebabkan penggemukan pada nada tertentu dan kolorasi nada rendah dan mid.

C. Jarak speaker ke dinding bagian belakang speaker dan jarak speaker ke dinding samping tidak boleh sama besar. Yang harus dihindari adalah jarak speaker ke dinding samping jangan 1/3 jarak speaker ke dinding belakang. Sebaiknya jika jarak speaker ke dinding samping adalah 60 cm maka jarak speaker ke dinding belakang sebaiknya 80 cm. Ada beberapa pabrik speaker yang memberikan rekomendasi jarak ideal speaker mereka ke dinding.

Gambar 2 memperlihatkan grafik frekuensi suara jika jarak speaker ke dinding samping dan ke dinding belakang sama besar.

Gambar 2

Gambar 3 memperlihatkan grafik frekuensi suara jika jarak speaker ke dinding samping dan ke dinding belakang tidak sama besar.

Gambar 3

D. Yang terpenting jarak speaker ke dinding samping mempengaruhi besar-kecil suara pantulan dinding samping ke pendengar. Semakin besar suara pantulan dinding samping yang didengar pendengar semakin jelek kualitas musik yang terdengar. Point ini akan kami bahas dengan detaik pada artikel kami selanjutnya.

3. Menemukan posisi speaker dan pendengar di titik netral resonansi dan standing wave.

A. Karakteristik resonansi ruang yang dipengaruhi oleh dimensi ruang (baca artikel akustik #1). Efek resonansi menghasilkan penggemukan pada frekuensi tertentu dan perlemahan frekuensi tertentu yang menyebabkan bass “boomy”. Jika ruang dengar dimensi nya ideal maka distribusi resonansi lebih merata pada tiap frekuensi menghasilkan bass yang lebih baik dan midrange yang bersih dari selaput bass yang boomy. Sebagai pelengkap artikel #1 selain dimensi ruang yang ideal penempatan speaker juga mempengaruhi resonansi suara.

B. Resonansi ruang yang sering disebut standing wave memberikan seperti gelombang air di dalam ember yang dijatuhkan setetes air. Pola standing wave ini memberikan distribusi keseimbangan frekuensi yang berbeda beda. Ada posisi null atau peak. Biasanya posisi ideal speaker di letakan pada 1/5 panjang ruang atau 1/3 panjang ruang dan posisi titik dengar adalah 2/3 dari panjang ruang. Pada posisi tersebut akan terdengar suara vocal dengan jernih tanpa diselimuti dengungan bass dan fokus musik dan latar musik yang jelas dan jernih.

4. Menemukan suara tiga dimensi yang memilki lapisan – lapisan musik

Secara umum jarak dinding ke belakang loudspeaker mempengaruhi kedalaman soundstage. Semakin besar jarak speaker ke dinding semakin dalam sound stage yang kita dengar. Tariklah speaker keluar beberapa puluh centi menjauhi dinding kita dapat mendengar perbedaannya antara sound stage yang tumpuk menumpuk dan sound stage musik yang membentuk proyeksi suara tiga dimensi yang dalam. Akan tampak musisi lapis depan, kemudian musisi lapis tengah dan musisi lapis belakang. Sayangnya banyak perangkat audio yang ditaruh di ruang tamu atau ruang keluarga yang tidak memungkinkan untuk meletakan speaker jauh dari dinding.

5. Menemukan keseimbangan frekuensi suara dengan mengatur ketinggian posisi dengar.

Beberapa speaker memiliki frekuensi yang berbeda pada jika kita duduk pada ketinggian yang berbeda – beda. Ketika telinga kita sama tinggi dengan posisi tweeter kita merasakan suara yang lebih open tetapi jika telinga kita dibawah posisi tweeter maka kita merasa suara yang lebih ngebass. Kebanyakkan speaker memiliki posisi tweeters sekitar 90cm sampai 120cm dari lantai. Jika anda memiliki kursi yang dapat disetel ketinggian duduknya maka masalah ini dapat di atasi.

Besaran pengaruh perbedaan suara ini berbeda –beda pada masing – masing speaker. Ada speaker dengan tweeter yang aliran suara yang melebar memiliki pengaruh yang kecil terhadap perbedaan tinggi tempat duduk. Pilihlah sebuah kursi dengar dimana kedudukan telinga anda di posisi optimal sumbu tweeter akan membantu mendapatkan keseimbangan nada tinggi.

6. Menemukan keseimbangan frekuensi, latar musik dan fokus musik dengan toe in.

Terakhir adalah toe in. Toe-in menghadapkan speaker ke dalam kearah pendengar. Tidak ada aturan yang khusus untuk melakukan toe-in. Anda dipersilakan untuk melakukan beberapa eksperimen. Beberapa speaker memerlukan toe-in dan beberapa speaker tidak perlu. Efek toe-in mempengaruhi aspek musik dalam hal keseimbangan frekuensi tinggi dan mid, fokus musik, soundstage, suasana ruang dimana musik direkam , dan suara menjadi langsung.

Biasanya speaker terdengar lebih bright jika kita melakukan toe in. Jika suara yang keluar dari speaker cenderung butek anda dapat melakukan toe in untuk mendapat repro yang lebih bright. Beberapa model speaker dirancang untuk didengar tanpa toe-in akan menjadi sangat bright jika di letakan dengan toe in.
Prinsip dasarnya adalah speaker toe-in dirancang bersuara optimal dengan energi suara langsung lebih banyak sampai ke telinga pendengar dan energi suara pantulan lebih sedikit Sedang speaker non toe-in berlaku sebaliknya.

Pengalaman adalah guru terbaik. Saran kami supaya anda mahir dalam menguasai keenam jurus diatas diperlukan banyak pengalaman mendengar dan mencoba segala posisi penempatan.

Salam,
Herwin Gunawan
www.vokuz.com

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »