Feeds:
Tulisan
Komentar

Speaker Placement

by wira

Langkah pertama untuk membangun Home Theater (bioskop rumah) adalah dengan membangun ruangan-nya. Sound Treatment dapat di-aplikasi-kan mulai dari pemilihan lantai, komposisi dinding, sampai bagian langit-langit.

Tapi bila ruangan home theater sudah jadi dan tidak ada rencana untuk renovasi, atau lokasi bioskop rumah adalah di ruang keluarga (living room), maka langkah perbaikan (improvement) paling mudah dan paling efektif yang bisa dilakukan adalah dengan mengatur tata letak speaker (speaker placement).

itu-r

Tata Letak Speaker

Dengan munculnya tayangan HD (high Definition), International Telecommunications Union Radiocommunications Assembly (ITU-R) atau International Radio Consultative Committee (CCIR), sebagai salah satu agency dari United Nations, diberi tugas untuk mempelajari dan membuat rekomendasi untuk digital cinema.

Mengapa lingkaran ITU-R ini sebaik-nya di-ikuti sebagai tata letak speaker ? Jawabannya sederhana, karena banyak studio perekaman, melakukan rekaman suara 5.1 sesuai dengan rekomendasi lingkaran ITU-R ini. Sehingga dengan mengikuti rekomendasi ini, tata letak speaker akan mendekati posisi microphone dari perekaman suara.

Komponen inti dari rekomendasi ITU-R adalah susunan penempatan loudspeaker yang terdiri dari 3 loudspeaker depan yang dikombinasikan dengan 2 loudspeaker belakang. Seperti terlihat pada gambar, susunan loudspeaker ditempatkan pada busur lingkaran, sudut speaker kiri dan kanan adalah 30? terhadap garis yang dibentuk speaker center dan titik dengar. Dengan kata lain, 3 buah loudspeaker depan memiliki jarak yang sama dengan posisi penonton.

Sebagai contoh, jika speaker center tidak dapat diletakkan di belakang layar, di-rekomendasikan untuk menunda (delay) sinyal suara dari speaker kiri dan kanan, sehingga semua sinyal dapat mencapai titik dengar dalam waktu bersamaan. Hal menarik yang patut dicatat, untuk kepentingan lip sync (sinkronisasi gerakan bibir dan suara), rekomendasi menyebutkan bahwa sinyal suara tidak boleh dipercepat lebih dari 20 mili detik atau ditunda (delay) lebih dari 40 mili detik.

3-speaker-depan

Setiap speaker depan harus memiliki tinggi yang sama dengan posisi referensi (sekitar 1,2 meter)

Parameter Unit/Kondisi Nilai
Lebar dasar B [m] 2–3 m
Sudut dasar [°] Referensi kiri/kanan 60°
Jarak titik dengar D [m] = B

tinggi-speaker

Speaker surround juga harus berada dengan jarak yang sama dari titik dengar dan memiliki sudut 110° ±10° dari garis referensi.

Ada satu lagi speaker yang harus ditempatkan dalam ruangan home theater : Subwoofer !! Penempatan speaker yang menghasilkan frekuensi rendah ini banyak mengundang pertanyaan dan agak banyak membutuhkan langkah pengamatan kondisi ruangan dan tips khusus… Artikel selanjutnya akan khusus membahas tentang penempatan subwoofer dalam ruangan. (Wira)

PENDAHULUAN

Makalah ini saya buat guna memenuhi permintaan saudara Slamet Adijuwono yang menjabat sebagai ketua IHEAC periode tahun 2009 – 2010 untuk mengisi kegiatan bulanan IHEAC dengan mengadakan seminar singkat mengenai akustik pada ruang high end audio pada tanggal 30 May 2009. Awal mulanya saya sedikit bingung dan cemas memikirkan materi yang sebaiknya saya siapkan untuk seminar tersebut. Saya berpikir dan terus berpikir untuk mendapatkan bahan yang isinya sederhana tapi dapat bermanfaat untuk anggota IHEAC tetapi pikiran saya masih buntu. Untungnya saya mendapat undangan dari Freeport untuk meninjau akustik bangunan mesjid mereka yang berlokasi di Kuala Kencana – Timika. Jadi selama perjalanan yang memakan waktu sekitar enam jam saya dapat merumuskan beberapa pokok bahasan akustik yang saya harapkan cocok untuk saya bawakan saat ini.

Dalam kegiatan saya sehari – hari sebagai konsultan dan installer akustik di lapangan sering kali saya menemui persepsi orang umum yang beranggapan bahwa akustik adalah hanyalah sebatas memasang bahan peredam rockwool pada seluruh dinding dan dilapisi karpet, atau untuk orang yang lebih informatif mengatakan bahwa untuk ruangan audio di perlukan beberapa panel diffuser, dan seterusnya. Pertanyaannya adalah apakah anggapan tersebut salah atau apakah anggapan tersebut benar. Untuk sementara mari kita membiarkan pertanyaan ini tidak terjawab karena sebenarnya ada pertanyaan mendasar yang penting untuk kita jawab.

APA TUJUAN AKUSTIK

Sebenarnya pertanyaan awal yang kita perlu jawab adalah apa tujuan kita merancang sebuah ruang akustik untuk high end audio yang kita miliki. Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara tepat kita perlu menyamakan persepsi kita. Yang saya maksudkan dengan merancang ruang akustik adalah dimana seseorang dengan sadar mulai mengatur – mengatur letak speakernya walaupun perangkat audio orang tersebut berada di ruang keluarga yang tidak di pasangkan sedikitpun produk akustik. Dan jika kita bertanya kepada orang tersebut mengapa anda mengatur letak speaker anda, maka kita dihadapkan pada ratusan kemungkinan jawaban yang beragam – ragam. Jawaban yang paling sederhana yang sering kita dengar adalah supaya suara musik dapat terdengar lebih enak.

Sebagai anggota IHEAC yang umumnya berpikir sangat kritis kita pasti kembali bertanya seperti apa suara musik yang terdengar lebih enak. Banyak kriteria tentang suara yang enak yang beredar di masyarakat umum. Akan tetapi apabila kriteria suara yang enak tidak kita perjelas maka sangat sulit untuk kita menjawab pertanyaan tersebut diatas. Apa tujuan akustik pada ruang high end audio?

Ada beberapa kemungkinan jawaban yang sering dikemukan orang mengenai pertanyaan apa tujuan anda memasang akustik di ruangan audio. Misalnya: untuk mendengar suara musik yang enak ruangan tidak boleh ada gemanya, atau supaya ruangan audio saya tidak mati perlu dipasang diffuser pada seluruh dinding dan tidak boleh ada material serap sama sekali. Kita kembali dihadapkan pada persepsi – persepsi yang saling bertentangan satu dengan lainnya yang tidak disertai dengan prinsip dasar yang benar.

PERSEPSI TENTANG SUARA YANG BENAR

Untuk menghindari perseteruan persepsi yang terjadi seperti contoh diatas ada baiknya kita menetapkan terlebih dahulu mengenai persepsi suara musik yang benar. Untuk itu saya tidak berani gegabah menentukan kriteria persepsi suara yang benar. Berhubung kita semua adalah orang high end audio maka kriteria suara musik yang benar yang kita mengacu kepada buku Introduction to High End Audio karangan Robert Harley. Di buku tersebut disebutkan beberapa kriteria tentang suara musik yang benar mulai dari: 1) Tonal Balance , 2) Stereo Image, 3) Dinamika Suara.

Jadi menurut anda apakah jawaban yang tepat untuk pertanyaan: Apa tujuan akustik pada ruang high end audio? Jawaban yang tepat adalah untuk menghasilkan suara musik yang memiliki tonal balance, sound stage dan dinamika musik yang baik.

Sebenarnya terdapat beberapa kriteria lain mengenai reproduksi suara yang benar dalam buku tersebut tetapi untuk membatasi cakupan bahasan pada seminar ini saya hanya mengambil tiga kriteria yang menurut saya penting untuk di bahas.

APA MASALAH AKUSTIK DI RUANG AUDIO

Umumnya rantai reproduksi musik untuk seorang audiophile adalah perangkat sumber suara, kabel, amplifier, kabel dan speaker. Suara reproduksi musik dari speaker kita sampai ke telinga kita melalui media ruang audio. Jadi komponen terakhir dari mata rantai reproduksi sinyal musik kita adalah ruang audio yang kita miliki.

Masalahnya setiap ruang audio memiliki warna tonal yang disebabkan oleh room modes (resonansi) dan reverberation (gaung) yang memberikan warna tambahan terhadap hasil reproduksi musik yang kita dengar. Masalah kedua adalah pantulan – pantulan awal yang terjadi di dinding memberikan sensasi arah suara tambahan pada sinyal keluaran speaker kita yang merusak stereo image. Dan masalah ketiga adalah noise room yang mengurangi rentang dinamika musik yang kita dengar hal ini memberikan sensasi musik yang terkompresi dan kita semakin jauh dari dinamika asli.

ACUAN DESAIN

Apabila kita lebih sering menikmati musik yang direkam pada sebuah studio maka acuan desain ruang audio kita sebaiknya menggunakan parameter – parameter akustik studio rekaman. Seperti yang kita dapat lihat pada foto di bawah ini adalah desain akustik ruang pada studio rekaman.

disneyconcerthall-300x200

recordingstudio

Dan apabila musik yang kita sering dengar adalah musik klasik yang di rekam secara live berikut dengan nuansa alami akustik di ruangan tersebut maka acuan desain ruang audio kita boleh mengacu ke pada parameter – parameter sebuah concert hall mini. Contoh gambar di bawah ini adalah concert hall milik Disney yang berlokasi di Los Angeles.

recordingstudio-300x199

disney concert hall

Secara statistik musik yang beredar di pasaran lebih dari 90% adalah suara yang di rekam di studio musik. Dan seluruh musik yang beredar di pasaran adalah hasil edit studio rekaman.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah setiap aktifitas dan usaha yang kita lakukan pada ruangan kita untuk mendapatkan tonal balance, sound stage dan dinamika musik yang baik maka kita sudah berada pada jalur yang benar.

Akan tetapi apa bila aktifitas dan usaha yang kita lakukan pada ruangan audio memberikan hasil yang berlawanan maka kita melakukan usaha dan aktifitas yang kurang tepat.

Penulis,

Herwin Gunawan

Blu-ray Disc di perkenalkan pada tahun 2006, mampu menghadirkan fitur format audio HD yang membutuhkan koneksi HDMI untuk hasil terbaik. Dolby Digital Plus (DD+), Dolby TrueHD, dan DTS-HD Master Audio memerlukan kapasitas koneksi yang melebihi kapasitas transfer kabel S/PDIF. Kabel HDMI 1.3 dapat menyalurkan sinyal data DD+, TrueHD, dan nd DTS-HD yang masih terkompres (belum di decode) sehingga AV receiver yang telah memiliki fasilitas decode format tersebut dapat meng-decode data audio dalam bentuk terkompresi.

Konten kepingan Blu-ray dapat memerintahkan Blu-ray disc player untuk mencampur sinyal audio terkompres dengan sinyal audio yang telah di-decode dan kedua sinyal ini dapat bersamaan disalurkan oleh kabel HDMI. Beberapa alat pemain Blu-ray selalu men-dekode sinyal digital menjadi sinyal audio analog dengan keluaran LPCM dan sinyal audio analog multi channel ini dapat disalurkan melalui kabel HDMI dengan syarat AV receiver men-supports input audio multi-channel LPCM dengan koneksi HDMI. Selanjutnya kabel HDMI juga men-supports format HDCP, yang menghasilkan repro audio resolusi tinggi yang hanya dapat disalurkan dengan kabel HDMI 1.3.

HDMI VERSI

HDMI Vibrate

KETERANGAN TABEL:

A. 36-bit support is mandatory for Deep Color compatible CE devices with 48-bit support being optional.
B. Maximum resolution is based on CVT-RB blanking which is a VESA standard for non-CRT based displays.[86] Using CVT-RB blanking 1920×1200 would have a video bandwidth of 3.69 Gbit/s and 2560×1600 would have a video bandwidth of 8.12 Gbit/s.
C. Using CVT-RB blanking would have a video bandwidth of 8.12 Gbit/s.
D. Using CVT-RB blanking would have a video bandwidth of 7.91 Gbit/s.
E. Using CVT-RB blanking would have a video bandwidth of 7.39 Gbit/s.
F. Even for audio bitstream formats that a given HDMI version cannot transport it may still be possible to decode the bitstream in the player and transmit the audio as PCM with no loss of quality.
G. CEC has been in the HDMI specification since version 1.0 but has only begun to be used in CE products with HDMI version 1.3a.
H. Playback of SACD may be possible for older HDMI versions if the signal source (such as the Oppo 970) converts to LPCM. For those receivers that have only PCM DAC converters and not DSD this means that no additional resolution loss occurs.
I. Large number of additions and clarifications for CEC commands. One addition is CEC command allowing for volume control of an AV receiver.

Anda baru saja membeli blu-ray player dan tv plasma, dan anda tidak ingin menunggu pihak toko untuk mengirimkan dan memasangkan untuk ada. Anda ingin membawa segera pulang perangkat tersebut dan memasangkan sendri.

Tetapi banyak sekali pilihan kabel di toko tersebut. Apakah anda harus membeli semua jenis kabel yang ada atau cukup satu buah kabel yang ada? Anda juga segan untuk bertanya pada wiraniaga toko tersebut karena tidak begitu yakin akan saran yang diberikan olehnya.

Berikut adalah panduan singkat mengenai jenis – jenis kabel yang di jual di pasar dan kegunaannya.

Pendahuluan

Untuk perangkat hiburan kita mengenal kabel sinyal dan kabel listrik. Kabel sinyal dibagi menjadi menjadi dua yaitu sinyal audio (suara) dan sinyal video (gambar). Untuk sinyal audio kita dapat dibagi menjadi dua yaitu sinyal audio analog dan sinyal audio digital – begitu pula untuk sinyal video kita mengenal sinyal video analog dan sinyal audio digital. Sedangkan untuk kabel listrik dapat di bagi menjadi dua yaitu kabel listrik ac yang terdapat pada stop kontak di perumahan dan gedung dan kabel listrik dc yang terdapat pada kendaraan bermotor.

A. KABEL AUDIO

Kabel Audio dapat di bagi menjadi dua bagian yaitu kabel audio: kabel audio analog dan kabel audio digital.

1. Kabel Audio Analog

Kabel Audio Analog – dalam bahasa sehari – hari kita tidak pernah menyebut analog karena umumnya apabila kita menyebut kabel audio semua orang berasumsi bahwa kabel yang di maksud adalah kabel audio analog. Sub Kategori ini dapat dibagi menjadi tiga bagian: (1) Kabel Audio Analog dengan tegangan dan daya sangat rendah seperti kabel mikrofon, gitar dan phono (2) Kabel Audio Analog dengan tegangan dan daya rendah seperti kabel audio, sub woofer, ipod (multi media), multi channel, kabel untuk alat musik elektrik (keyboard, piano electric dll), kabel studio (3) Kabel Audio dengan tegangan dan daya yang relatif besar seperti kabel speaker.

a. Kabel Audio Interkonek

b. Kabel Sub-Woofer

c. Kabel Ipod (kabel multi media)

d. Kabel Phono

e. Kabel Audio Multi Chanel

f. Kabel gitar dan mikrofon

g. Kabel studio dan alat musik listrik

d. Kabel Speaker

2. Kabel Audio Digital

Kabel audio digital menyalurkan sinyal audio dalam bentuk data digital. Kelebihan koneksi dengan kabel digital adalah suara dengan noise level serta interfensi yang rendah. Kabel audio digital yang terdapat di pasar saat ini adalah:

1.2.1. Kabel Audio Digital Coaxial

1.2.2. Kabel Audio Digital Optical

B. KABEL VIDEO

Seperti kabel audio kabel video dapat di bagi menjadi dua kategori yaitu kabel video analog dan kabel video digital.

1. Kabel Video Analog

Kabel Video Analog – kita tidak pernah menyebutkan kata analog untuk kategori ini.

a. Kabel Video Komposit

Kabel video komposit adalah koneksi kabel video standard yang mampu menghantarkan sinyal video dengan resolusi maksimal 330 lines (garis). Cara mengenali kabel ini adalah kabel coaxial tunggal dengan konektor (jek) rca berwarna kuning. (Kadang-kadang di jual bersama kabel audio stereo). Untuk pemakaian kabel yang panjang sangat di sarankan untuk menggunakan kabel video komposit dengan impedansi 75 ohm. Apabila perangkat anda sudah memiliki teknologi yang lebih maju sebaiknya tidak menggunakan kabel ini – gunakan lah komponen video atau HDMI untuk hasil yang maksimal.

b. Kabel S-Video

Kabel S-Video dapat menghantar gambar visual dengan resolusi sampai dengan 400 lines (garis). Kabel S-video membagi sinyal visual menjadi dua komponen warna yaitu c dan y. Kabel ini memberikan tampilan gambar lebih baik dibandingkan dengan kabel komposit. Cara mengenali kabel ini adalah kabel tunggal dengan konektor s-video 4 pin atau 9 pin.

c. Kabel Video Komponen

Kabel video komponen mampu menampilkan gambar dengan resolusi 480p. Kabel ini membagi sinyal visual menjadi tiga komponen warna yaitu Y, Cr dan Cb. Cara mengenali kabel ini adalah terdiri dari tiga buah kabel coaxial dengan konektor (jek) rca warna merah, biru dan hijau. Kabel ini memberikan koneksi video analog yang terbaik dibandingkan komposit dan s-video.

d. Kabel RGB

Kabel RGB adalah kabel sinyal video analog yang terbaik – koneksi ini umumnya hanya terdapat pada perangkat video professional. Versi terbaik dari kabel RGB adalah RGB HV yang sering di gunakan professional pada instalasi high – end.

2. Kabel Video Digital

Kabel Video Digital menghantarkan sinyal video dalam bentuk data digital.

a. Kabel DVI

Kabel DVI (digital visual interface) adalah koneksi video digital yang menghantarkan sinyal data visual bandwidth tinggi antara sumber gambar (DVD player, Blu-Ray, dll) dengan perangkat display (TV plasma, Projector, Monitor, dll) Kabel ini memiliki proteksi konten video yang di sebut high-bandwidth digital content protection (HDCP) menawarkan koneksi digital yang aman. Koneksi DVI mampu menghantarkan tampilan visual HDTV dengan resolusi 720p, 1080i and 1080p.

C. KABEL AUDIO VIDEO

Demi tujuan kemudahan pemasangan beberapa perusahaan menciptakan koneksi gabungan antara kabel audio dan kabel video. Kabel audio-video juga dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu kabel audio-video analog dan kabel audio-video digital.

1. Kabel Audio Video Analog

a. Kabel Audio Video Analog

Kabel audio video analog adalah gabungan antara kabel audio analog dan kabel video komposit. Kabel ini menghantarkan sinyal audio stero dua channel serta sinyal video komposit 330 lines. Cara mengenali kabel ini adalah kabel terdiri dari tiga buah kabel coaxial dengan konektor (jek) rca warna merah (sinyal audio channel kanan), rca warna putih atau hitam (sinyal audio channel kiri) serta rca warna kuning (sinyal video komposit.

b. Kabel Audio Video S-cart

2. Kabel Audio Video Digital

a. Kabel HDMI

Kabel HDMI (high-definition multimedia interface) menghantarkan sinyal digital audio serta video tanpa kompresi. Pada kabel HDMI juga diterapkan teknologi anti pembajakan HDCP (high-bandwidth digital content protection). Pada saat artikel ini ditulis kabel HDMI telah dirilis versi 1.3b yang memiliki kemampuan hantaran sinyal audio video dengan bandwith lebih baik dari versi-versi sebelum. Kabel ini mampu menjalankan aplikasi teknologi terkini seperti menhantarkan data Dolby TrueHD dan DTS-HD yang terdapat pada Blu-Ray player atau HD DVD player.

b. Kabel FireWire

Kabel IEEE1394 (atau FireWire atau i.LINK) adalah koneksi sinyal audio-video yang fleksibel yang menghantarkan sinyal HDTV dengan format video MPEG2 ke perangkat D-VHS recorders. Kabel ini juga men-support koneksi daisy-chaining.

D. KABEL LISTRIK

1.. Kabel Listrik AC

2. Kabel Listrik DC

E. KABEL DATA NETWORK

Kabel Cat5/6 – Kabel Category 5, 5e and 6 adalah kabel data kecepatan tinggi yang biasa digunakan untuk koneksi internet kecepatan tinggi serta jaringan network rumah. Cat 5 memiliki daya hantar sampai dengan bandwidth 100 MHz / 100 Mbps. Cat 6 memiliki daya hantar 200 MHz dan di rekomendasikan untuk Eternet Gigabit (1,000 Mbps). Sedangkan Cat 5e adalah versi enhanced dari Cat 5. Cara mengenali kabel ini adalah kabel dengan konektor (jack) eternet RJ-45.

Demikian artikel singkat tentang cara mengenali jenis kabel serta aplikasi nya pada perangkat hiburan anda.


Salam,

Herwin Gunawan

www.vokuz.com

Referensi Kekerasan Suara (acoustic pressure level)


140 dB
130 dB – Jet Plane take off
120 dB – Pneumatic Drill, Thereshold of pain
110 dB – Discotheque Floor, Symphony Orchestra at first row
100 dB – Crying Infant
90 dB – Drums at 10 meter, stadium when goal is scored
80 dB – Noise in a very busy street, loud hi-fi sound
70 dB – Vacuum cleaner, speech
60 dB – Limit of normal conversation, Average shop noise
50 dB – Office, Restaurant
40 dB – Conference Room, Soft Music, Quiet Room
30 dB – Quiet classroom
20 dB – Very quiet room
10 dB -
0 dB – Thereshold of perception

Salam,
Herwin Gunawan

<a href=”http://vokuz.com/” target=”_blank”><u>www.vokuz.com</u></a>

Seringkali kita mendengar orang mengeluh tentang akustik sebuah ruang. Keluhan seperti tidak jelasnya dialog yang di ucapkan oleh panelis dalam sebuah konferensi, musik yang terdengar hingar bingar pada sebuah konser musik rock, tidak dapat berbicara dengan tenang pada meja makan di sebuah rumah makan karena noise level yang tinggi, pengumuman jadwal penerbangan yang tidak terdengar jelas di sebuah airport.

Hal tersebut diatas terjadi karena perencanaan ruang tersebut tidak melibatkan konsultan akustik dalam tahap awal perencanaan ruang, yang mengakibatkan ruangan yang telah di desain secara indah menjadi mubasir akibat kegagalan akustik.

Salah satu hal penting yang perlu di perhitungan pada saat perencanaan ruang yang melibatkan audiens adalah nilai RT60 yang sesuai dengan peruntukan ruang. Definisi RT 60 dapat dibaca pada artikel saya sebelumnya: Bahan peredam suara dalam mengatasi gema – perhitungan RT60.

Dalam tulisan ini saya akan memberikan beberapa contoh soal perencanaan desain akustik yang benar – yang memberikan kepuasan pada audiens – serta pemilik ruangan tersebut.

Contohnya pertama adalah saat merancang sebuah ruangan konferensi – dengan audiens maksimal 800 orang – dimana 80% aktifitas utama audiens dalam ruangan tersebut adalah mendengarkan dialog. Maka diperlukan perencanaan nilai RT60 yang cocok sehingga audiens dapat mendengarkan kejernihan dan kejelasan dialog tanpa adanya gangguan berupa perkataan yang bertumpuk akibat pantulan suara yang terjadi di ruangan tersebut.

Gambar 1. Desain awal sebuah ruang konferensi

Ruang Konferensi yang baik memerlukan desain akustik yang benar. RT 60adalah salah satu aspek terpenting dalam perencanaan akustik ruang pada sebuah ruang konferensi.

Hal sebaliknya adalah merancang ruangan concert hall – dengan audiens sekitar 2000 orang – yang mana di dalam ruangan tersebut 90% aktifitas utama audiens adalah mendengarkan pagelaran musik akustik. Pagelaran sebuah musik orkestra umumnya jarang menggunakan mikrofon dan pengeras suara. Sumber suara berupa suara musik dari seksi alat musik gesek, soprano, tenor dan sebagainya dapat terdengar dengan baik oleh 1000 audiens berkat bantuan pantulan dan difusi suara yang telah di rancang dengan baik oleh desainer akustik ruang tersebut.

Gambar 2. Sydney Opera House

Sydney opera house dengan kapasitas 2800 orang, salah satu ruang konser orkestra dan theater dengan desain akustik terbaik di dunia, memiliki RT dan EDT 2.1 detik.

Dari dua contoh diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan utama audiens dalam ruangan dan sumber suara adalah dasar untuk menentukan rancangan akustik.

Suara apakah yang di dengarkan oleh audiens dalam sebuah ruangan?
Berikut adalah suara yang didengar oleh audiens dalam sebuah ruang:

1. Dialog
2. Musik
3. Campuran antara musik dan dialog
4. Campuran antara Musik, dialog dan noise

Berdasarkan list suara yang di dengar oleh audiens diatas – arsitek dan akustisi membagi fungsi ruang sebagai berikut:

1. Ruang konferensi: dialog
2. Cinema: dialog, noise dan musik
3. Theater: dialog dan musik
4. Ruang konser musik pop/rock/jazz: musik dengan pengeras suara
5. Ruang konser orkestra: musik akustik tanpa pengeras suara
6. Ruang ibadah: dialog dan musik
7. Rumah makan: dialog dan background musik
8. Night Club: musik dengan SPL yang relatif tinggi

Dan berdasarkan list ruangan tersebut diatas, para akustisi dunia sepakat untuk membuat RT minimum dan maksimal untuk masing – masing ruangan yang disebutkan diatas sebagai berikut:

1. Ruang konferensi: 0.6 – 1.3 (detik)
2. Cinema: 0.6 – 1.2 (detik)
3. Theater: 1 – 1,8 (detik)
4. Ruang konser musik pop: 1.4 – 2 (detik)
5. Ruang konser orkestra: 1.6 – 3 (detik)
6. Ruang ibadah: 1.8 – 3.2 (detik)
7. Rumah makan: maksimal 1.8 (detik)
8. Night Club: 0.6 – 1.6 (detik)

Dengan mengikuti list RT60 untuk masing – masing fungsi ruang dan di kombinasikan dengan perencanaan panel akustik yang benar serta desain interior yang baik maka pemilik ruangan dapat memaksimalkan pengalaman audiens dalam ruangan tersebut.

Demikian artikel ini saya buat dengan harapan tulisan ini dapat memberikan manfaat pada pembaca VOKUZcom / FORUMS.

Salam,
Herwin Gunawan

www.vokuz.com

1. Apa yang membuat kualitas gambar dan suara CD/DVD tak maksimal walaupun CD/DVD tersebut orisinil dan baru?
Pada pemrosesan pencetakan label pada CD/DVD dilakukan dengan sistem sablon atau printing yang umumnya meninggalkan muatan elektrostatik pada keping CD/DVD. Muatan elektrostatik ini sering kali menjadi sumber utama tidak maksimalnya laser membaca data pada CD/DVD. Karena akibat muatan elektrostatik membuat partikel – partikel yang sangat kecil yang tak terlihat mata menempel pada permukaan disc.
Problem kedua adalah masalah goresan pada permukaan disk.Sering kali kita kurang hati-hati memegang keping CD/DVD dan tergores. Goresan sering mengakibatkan salah baca, lompat – lompat dan sebagainya.
Problem ketiga adalah minyak/ debu dan sebagainya. Kadang – kadang tanpa disengaja tangan kita menempel di permukaan keping dan meninggalkan bercak. Bercak ini mengandung minyak yang mengundang debu menempel pada permukaan keping CD/DVD.
Kesemua permasalah diatas mengakibatkan pembacaan data yang kurang tepat yang akhirnya menurunkan kualitas suara dan gambar CD/DVD dan juga dapat membuat laser dan lensa pada player cepat aus.
2. Blue Note Galaktos mengatasi permasalahan tersebut

Blue Note Galaktos terdiri dari dua botol cairan kimia berwarna biru bening dan bening dengan bahan anti oksidan.
Botol pertama untuk menghilangkan muatan elektrostatik, debu dan lemak yang menempel sedang botol kedua untuk menciptakan lapisan pelindung CD/DVD dari kotoran dan goresan. Pemakaian cukup dilakukan satu kali dan dapat bertahan untuk satu tahun.
Cara pemakaian:
1. Basahkan kapas lembut dengan Galaktos no1. Bersihkan permukaan CD/DVD dengan gerakan memutar sampai benar -benar bersih. Biarkan beberapa saat agar permukaan CD menjadi kering.
2. Basahkan kapas lembut dengan Galaktos no2. Cairan di usapkan dengan gerakan memutar pada permukaan CD sampai tercipta lapisan bening.
3. Uji Coba
Uji coba pertama kami lakukan dengan memakai CD musik Rod Stewart dengan lagu yang berjudul When I need you. Lagu ini sempat ngetop lewat lantunan vokalis Leo Sayer.
CD yang telah kami lakukan perawatan dengan Blue Note Galaktos, terasa suara
menjadi lebih bersih dan detail. Suara bas yang lebih bulat dan bersih, vokal Rod
Stewart menjadi lebih berisi tidak tipis dan kering. Background musik lebih tenang.
Hawa musik dan nuansa ruang terasa lebih nyata. Kesan digital yang sering
terdengar pada ketukan hihat atau cymbal menjadi berkurang sehingga musik
trebel terasa lebih halus ditelinga.
Uji coba kedua kami lakukan pada DVD: 2Fast 2Furious. Hasil pengujian
memberikan kesan yang sama pada repro suara. Sedang untuk repro gambar
yang kami rasakan adalah warna gambar yang lebih padat, nyaman dan bersih.
Objek dan latar belakang tampak lebih baik menghasilkan gambar yang dalam.
4. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat kami tarik kesimpulan beberapa benefit dari Blue Note Galaktos yaitu:
* Dengan hilangnya muatan elektrostatik tampilan gambar dan suara menjadi
seindah master nya.
* CD/DVD player menjadi lebih awet karena pembacaan tidak terganggu.
* Dapat mengobati CD/DVD yang tergores – gores halus.
* Dengan biaya Rp 1,000 per keping/ tahun Blue Note Galaktos adalah produk perawatan CD/DVD yang sangat murah.
Salam,
Herwin Gunawan
<a href=”http://vokuz.com/” target=”_blank”><u>www.vokuz.com</u></a>

Pengaruh Elektromagnet terhadap perangkat audio video kita
Setiap hari, dirumah, di tempat kerja, di tempat rekreasi dan dimana – mana di pelosok bumi ini terpancar beragam gelombang. Dan gelombang tersebut dimuati elektromagnetik. Berikut kita lihat beberapa tanya jawab dibawah ini.
Tanya: Jelaskan mengenai gelombang elektromagnet dan pengaruhnya terhadap reproduksi suara dan gambar?
Jawab: Gelombang Elektromagnet terpancar dari komponen listrik dan perkabelan dirumah kita. Gelombang ini menggangu kerja komponen listrik pada perangkat audio video. Lihat gambar dimana gelombang #1 adalah gelombang yang dimuati elektromagnetik.
Tanya: Jelaskan mengenai QRT?
Jawab: QRT singkatan dari Quantum Resonance Technology. Penerapan fisika quantum dalam perlakuan bahan. Dimana bahan tersebut dimuati photon dengan energi tertentu. Bahan ini jika di aktifkan akan memancarkan gelombang yang mampu menetralisir gelombang elektromagnet dan radio. Lihat gambar dimana gelombang #2 adalah gelombang yang telah bebas muatan elektromagnet.

Gambar 1. Gelombang QRT yang menetralisir noise elektromagnet
Tanya: Apa benefit ElectroClear / Symphony?
Jawab: Manfaat pertama ElectroClear / Symphony menetralisir gelombang elektromagnet dan radio dalam radius 3 meter / 10 meter. Menghasilkan arus listrik yang bertenaga dan sehat yang membuat komponen audio video lebih optimal.
Manfaat kedua Proses pembersihan listrik oleh ElectroClear / Symphony tidak menyebabkan kolorasi suara atau penurunan dinamika karena ElectroClear / Symphony tidak menerapkan sistim filter atau sistem trafo pada jalur listrik.


Gambar 2. Electro Clear

Tanya: Dimana ElectroClear / Symphony dipasang?
Jawab: ElectroClear / Symphony dipasang dekat pada powercord komponen atau dekat komponen audio video. ElectroClear juga dapat dipasangkan dekat perangkat listrik yang menyebarkan noise seperti a/c, dimmer, lampu dll. Pemasangan dapat dipararel dengan power conditioner yang ada.

Gambar 3. Symphony

Tanya: Bagaimana hasil uji dengar?

Jawab: Secara umum pemakaian electroclear / symphony dihasilkan soundstage 3 dimensi yang lapang, musik lebih terkontrol dan berirama, vokal lebih lantang dan empuk, detail dinamikamikro, suara tweeter menjadi lebih lembut serta penurunan noise.
Karena tidak ada efek kolorasi maka kadang – kadang pemakaian ElectroClear / Symphony tidak terasa, baru terasa ketika alat ini di cabut.
Pemasangan
Langkah ke 1
Pemasangan dimulai dengan mencolokkan Electro Clear / Symphony dengan jarak sedekat mungkin ke perangkat utama. Elektro Clear / Symphony bekerja efektif jika di colok pada stopkontak di dinding.
Langkah ke 2
Setelah mencolok Electro Clear / Symphony dekat perangkat anda, sekarang saat nya untuk menghalau noise yang di hasilkan oleh AC, kulkas, kipas angin, lampu neon, dimmer, TV, komputer, microwave, digital clock dan perangkat rumah tangga yang memakai tenaga listrik yang berada pada ruang dengar. Misalnya contohnya colokan electro clear pada stop kontak komputer atau AC.
Elektro magnet adalah salah satu permasalahan yang selalu kita hadapi. Untuk penanggulangan elektromagnetik saya belum menemukan produk lain pengganti sistem QRT.
Salam,
Herwin Gunawan
<a href=”http://vokuz.com/” target=”_blank”><u>www.vokuz.com</u></a>

Bagaimana memilih AC line distributor untuk sistem audio video?

 

Jika anda mencolokkan seluruh sistem anda langsung ke stop kontak dengan memakai cord extention atau T konektor maka sistem anda belum bekerja dengan performa sesungguhnya.

 

Apa permasalahan dengan listrik yang di hasilkan oleh PLN?

 

Faktanya tegangan listrik yang keluar di stop kontak rumah kita juga selain sebagai sumber energi juga sebagai penerima dan pembawa noise. Setiap perangkat listrik yang kita colok ke stop kontak melepaskan getaran noise. Getaran noise tersebut di terima oleh arus listrik rumah dan di distribusikan ke seluruh stop kontak yang berada di rumah kita. Disamping itu tegangan listik yang disalurkan melalui kabel yang panjang juga bekerja seperti antenna dimana menyerap energi sinyal radio dan noise lain yang berada di udara.

 

Gabungan getaran noise yang berasal dari perangkat listik rumah kita plus getaran noise yang ditangkap oleh kabel listik dalam perjalanannya sampai ke stop kontak plus getaran noise yang dihasilkan oleh perangkat audio (kenyataannya CD/DVD player adalah perangkat penghasil noise paling besar) membuat listrik yang diterima oleh perangkat kita menjadi terpolusi. Bayangkan kalau kita harus bermain bulu tangkis di dalam ruangan yang penuh asap rokok. Kita menjadi sesak napas, cepat lelah, mata perih dan lain – lain.

 

Perangkat untuk memecahkan rmasalah ini adalah disebut power conditioner. Ada banyak power conditioners yang beredar dipasar saat ini, tapi kebanyakan produk tersebut tidak mampu menjawab masalah komplek kelistrikan yang kita inginkan.

 

Idealnya power conditioner mmiliki kemampuan:
1. Proteksi terhadap lonjakan tegangan listrik
2. Memurnikan tegangan listrik tanpa membuat hambar
3. Memililiki outlet yang didisain sesuai kebutuhan sistem tiap tiap individu
4. Terakhir dan paling penting adalah kemampuannya menekan gangguan noise pada suara maupun gambar. Detail dan resolusi meningkat karena perangkat bekerja pada kondisi yang sehat karena supply tenaga yang murni. Suara dan gambar lebih bening, hidup dengan dimensi yang lebih dalam dan realistik.
Bagaimana memilih produk yang cocok dengan sistem anda?

 

Audio Power Industries menawarkan beragam pilihan produk yang cocok dengan kebutuhan.

 

Audio Power Industries memiliki tiga lini produk yaitu:

 

1. Ultra Series: Power Conditioner High End Grade

Menggabungkan fungsi maksimum isolasi antar perangkat dan kemampuan menyuplai tegangan tinggi ke power amplifier.

Power Wedge Ultra 216p ini di desain untuk memberikan suplai terbaik ke perangkat.

 


Gambar 1. Power Wedge Ultra 216p

 

Memiliki 10 outlet yang terdiri dari 6 outlet tersisolasi yaitu satu outlet pada 150 watt dan lima outlet pada 120 watt dan 4 outlet tegangan tinggi untuk power amplifier.
6 outlet dengan maksimum isolasi dikhususkan untuk perangkat sumber suara seperti: CD player, DVD player, Turntable, Tape Deck, Tuner, VCR, Laser Disc, DA converter, Pre Amp, Surround Processor tanpa power amp, Electrostatic Speaker.
4 outlet untuk tegangan tinggi untuk perangkat penguat seperti: Integrated Amp, Power Amp, Dual Mono Power Amp, Sub Woofer dengan Amplifier, Surround Processor dengan power amplifier.

 

Jika anda mimiliki perangkat high end audio yang kompleks seperti diatas. Dengan mencolokkan tiap tiap perangkat tersebut ke Power Wedge Ultra 216p maka perangkat anda ibarat memiliki pembangkit tenaga listrik sendiri – sendiri dengan arus yang sangat murni.
2. Power Pack: Power Conditioner Hi Fi Grade

 

Membuang beberapa fitur mewah tanpa mengurangi performa Power Pack sangat ideal untuk sistem Hi Fi yang memiliki komposisi CD/DVD/Phone plus Integrated Amplifier/Surround Processor .

 

Power Pack II
Memiki 6 outlet yang terdiri 2 outlet untuk perangkat digital dan 4 outlet untuk perangkat analog dan integrated amplifier. Total 10 A.


Gambar 2. Power Pack IIp

Power Pack Vp
Memiliki 12 outlet yang terdiri dari 4 outlet tanpa saklar dan 8 outlet dengan saklar. Panel depan memiliki Volt meter dan saklar on/off.


Gambar 3. Power Pack Vp

3. Power Enhancer: Power Conditioner untuk power amplifier.
Ultra PE 2p dirancang untuk memberikan suplai ke power amplifier dengan total 6 outlet tegangan tinggi. Panel depan memiliki Voltmeter. Jika anda sudah memiliki power conditioner standard dan telah mengupgrade sistem anda dari memakai integrated amplifier menjadi pre amp dan power amp maka power enhancer dapat menjadi power conditioner untuk power amp anda dan power conditioner yang lama untuk perangkat lainnya.


Gambar 4. Ultra PE IIp

Audio Power adalah pelopor Power Conditioner yang menggunakan teknologi Isolated Transformer dan dinobatkan oleh majalah Stereophile sebagai produk yang memberikan sumbangan besar pada dunia audio dalam kurun 40 tahun (1960-2000).

Salam,
Herwin Gunawan

<a href=”http://vokuz.com/” target=”_blank”><u>www.vokuz.com</u></a>

1. PENDAHULUAN

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan artikel akustik: Cara Menghitung Resonansi pada Ruang. Setelah mendapatkan dimensi ruang dengar yang ideal tahap selanjutnya adalah mengukur gema ruang dengar dan menetralisir gema ruang dengar.

Setiap ruangan memiliki gema dengan karakteristik gema yang berbeda satu dengan yang lain. Karakter gema di ruangan ditentukan atas tiga parameter yaitu: level gema, waktu gema dan frekuensi gema.

Untuk membuat ruang dengar dengan akustik yang baik adalah kita harus mampu menerapkan komposisi akustik treatment yang tepat. Sehingga kita mendapatkan ruangan dengan level gema, waktu gema dan frekuensi gema yang flat pada tiap tingkatan frekuensi. Ruangan dengan tingkat gema yang pas akan memberikan nuansa ruang live musik yang baik apabila kita membangun ruang untuk musik, atau dialog yang jelas terdengar pada beragam lokasi di ruang tersebut apabila tujuan kita membangun ruang tersebut untuk keperluan seminar.

2. PEMAHAMAN RT60 (Reverberation Time)

Ada beragam metode pengukuran waktu gema tetapi yang paling sering di gunakan adalah Reverberation Time 60dB yang lebih dikenal dengan istilah RT 60. Definisi RT60 adalah waktu (detik) yang dibutuhkan untuk suara melemah sebanyak 60dB.

Untuk membuat ruangan dengan hasil akustik yang baik kita perlu menghitung:
(1) Besaran gema (RT60) rata – rata pada ruangan (detik)
(2) Besaran gema (RT60) pada frekuensi tertentu (detik)

Waktu gema yang ideal (RT60) untuk ruang dengar dengan volume 10 meter kubik adalah 0.9 detik dan 500 meter kubik adalah 1.4 detik. Jika angka (RT60) ruang jauh lebih kecil dari angka patokan di atas kita akan merasakan ruangan yang cenderung mati (dead room) atau jika angka (RT60) ruang jauh di atas angka patokan di atas kita akan merasakan ruang yang terlalu bergema.

Misalnya anda memiliki ruangan dengan ukuran 29 meter kubik maka ideal nya waktu gemanya (RT60) adalah 1,15 detik. Tetapi jika ruangan tersebut memiliki waktu gema (RT60) sebesar 1.7 detik maka ruangan tersebut membutuhkan material serap suara. Atau sebaliknya jika pada ruangan tersebut memiliki waktu gema (RT60) sebesar 0,7 detik maka ruangan tersebut dapat kita sebut sebagai dead room dimana pada ruang tersebut banyak terdapat material serap suara.

2. RUMUS PERHITUNGAN RT60

Setiap material memiliki karakter serap dan pantul yang berbeda untuk frekuensi yang berbeda. Misalnya material semen cenderung untuk memantulkan nada tinggi dan untuk nada rendah di teruskan. Sedangkan karpet cenderung untuk menyerap nada tinggi dan meneruskan nada rendah. Sering saya melihat orang membuat ruang studio atau ruang audio dengan memasang karpet di lantai dan dinding. Ruang seperti ini cenderung untuk memberikan efek suara yang “boomy” (dengung) dengan detail suara yang tidak baik.

Rumus perhitungan RT60 adalah sebagai berikut:

RT60 = (0,161 x V) / (A x S)

V = volume ruangan (m3)
A = luas permukan material (m2)
S = koefisien serap material (m/detik)

Untuk mendown-load tabel koefisien sabine untuk beragam jenis material silakan klik link http://vokuz.com/file/sabine.pdf

3. CONTOH PERHITUNGAN RT60

Berikut contoh soal perhitungan frekuensi gema ruang dengar.Jika kita mempunyai ruang dengar dengan dimensi:

Panjang 6.6 m; Lebar 4.8 m; Tinggi 2.4 m

Permukaan lantai: Beton
Permukaan dinding: Semen
Permukaan Plafon: Semen

Dengan data diatas pertama – tama kita perlu menghitung volume ruangan tersebut.
Untuk menghitung volume ruangan rumus nya adalah: panjang x lebar x tinggi.
Maka kita dapat perhitungan volume ruang = 6.6m x 4.8m x 2.4m = 76.032 m3

Langkah kedua adalah menghitung luas masing – masing permukaan tiap bahan yang ada dalam ruangan. Pada contoh soal ini kita perlu menghitung luas total permukaan beton dan luas total permukaan semen.
Luas total permukaan beton = (6.6 x 4.8) = 31.68 m2
Luas total permukaan semen = luas total dinding + luas plafon = 2(6.6 x 2.4) + 2(4.8 x 2.4) + (6.6 x 4.8) = 86.40 m2

A. PERHITUNGAN RT60 RUANG SEBELUM TREATMENT AKUSTIK

Dari data di atas mari kita buat tabel perhitungan sbb:

Keterangan perhitungan:
1. S125, S250, S500, S1000, S2000, S4000 adalah koefisien serap material (semen/beton) pada frekuensi 125Hz, 250Hz, 500Hz dan selanjutnya.
Angka koefisien serap dapat di download di: http://vokuz.com/file/sabine.pdf

2. S125 x A adalah koefisien serap 125 Hz dikali dengan luas bidang serap. Dari tabel diatas S125 x A untuk bahan beton = 0,317

3. RT 60 untuk frekuensi tertentu di ruangan didapat dari angka 0.161 x volume ruang di bagi dengan total S x A. Dari tabel di atas kita dapatkan RT 60 untuk frekuensi 125 Hz adalah 0,482 detik.

4. Apabila seluruh angka sudah di hitung dengan baik maka kita dapat membuat tanggapan frekuensi ruangan tersebut menjadi seperti contoh dibawah ini.

A2. Grafik frekuensi gema sebelum treatment

Grafik A2. memberikan gambaran:
1. Pada frekuensi 1000 Hz gema (RT60) berlangsung selama 2.993 detik dan gema pada frekuensi 125 Hz selama 0.482 detik. Hal ini menyebabkan selisih fase dan selisih waktu untuk suara pada frekuensi 125Hz dan pada frekuensi 1000Hz.
Faktor negatif untuk hal diatas adalah rusaknya stereo imaging suara serta kenyaman orang dalam menyimak dialog ataupun musik menjadi berkurang.
2. RT 60 rata – rata sebesar 1,776 detik. Dimana angka tersebut di atas dari angka RT60 yang ideal yang di anjurkan untuk ruang tersebut.
B. LANGKAH TREATMENT AKUSTIK

Untuk mendapatkan RT60 yang ideal kita perlu melakukan:
1. Mengurangi RT60 sampai dengan angka yang ideal untuk ruangan dengan volume di atas
2. Mengurangi RT60 pada frekuensi 1000 Hz dengan kombinasi material akustik yang tepat

C. HASIL TREATMENT AKUSTIK YANG IDEAL

Setelah dianalisa dan dihitung dengan cermat maka dipilihlah material akustik dengan komposisi:

1. Lantai Karpet dengan luas permukaan bidang 31,68 m2
2. Dinding dan plafon MDF dengan luas permukaan bidang 76,40 m2
3. Panel Acourete Fiber dengan luas permukaan bidang 10 m2.

Mari kita lihat perbedaan nya dengan membuat tabel perhitungan dan grafik seperti dibawah ini.

B2. Grafik frekuensi gema setelah treatment

Grafik B2. garis warna merah jambu menggambarkan waktu gema (RT60) ruangan sebelum treatment pada tingkatan frekuensi yang berbeda. Garis biru tua menggambarkan waktu gema (RT60) ruangan yang telah ditreatment.

Dari grafik di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa:

1. RT 60 rata – rata ruang telah berkurang dari 1,776 menjadi 0,426
2. Grafik RT 60 untuk tiap tingkatan frekuensi menjadi lebih landai berkisar antara 0,3 – 0,6 detik di banding grafik sebelumnya antara 0,4 – 2,5 detik.

Demikian artikel ringkas mengenai perhitungan gema ruangan RT60 beserta contoh soal cara mengatasi masalah tersebut. Semoga tulisan yang sederhana ini dapat berguna bagi pehobby, praktisi dan pembaca pada umumnya.

Salam,
Herwin Gunawan
www.vokuz.com

Tulisan Sebelumnya »